DPW LDII Jawa Barat Gelar Workshop ICT

Image

Pembukaan Workshop ICT yang diselenggarakan oleh DPW LDII Jawa Barat

Bandung (16/02/13) – Dewan Pimpinan Wilayah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPW LDII) Jawa Barat menggelar Workshop Information & Communication Technology (ICT) selama dua hari, 16-17 Februari 2013.

Workshop yang diselenggarakan di kantor DPW LDII Jawa Barat jalan Sarijati Margacinta Bandung ini dihadiri oleh seluruh perwakilan DPD Kota/ Kabupaten se-Jawa Barat ditambah  utusan dari pondok pesantren.

Kemajuan teknologi telah membawa dampak yang sangat besar pada kehidupan masyarakat termasuk umat Islam di dalamnya.

Lebih lanjut dalam arahannya Ir.MT. Prasetio Sunaryo selaku Ketua DPP LDII yang juga anggota Dewan Riset Nasional bidang Hankam mengatakan, ” Jangan sampai teknologi itu malah membuat umat menjadi rusak karena disalah gunakan untuk menyebarkan pornografi, hasutan kebencian, fitnah atau berita bohong, hendaknya warga LDII dimanapun berada justru harus bisa meneladani masyarakat luas untuk bisa menggunakan teknologi itu untuk hal-hal positif, kebajikan, nasihat amar ma’ruf nahyi munkar, maka era Cyber ini kita manfaatkan untuk berdakwah.”

Workshop ICT yang bertajuk Membangun SDM Unggul Melalui Cyber Dakwah ini sukses dibuka oleh Ketua Umum DPP LDII Prof. DR. KH Abdullah Syam, MSc.

(Kontributor. Fajar Ibnu)

Musda Lembaga Dakwah Islam Indonesia Kota Bekasi

Musda LDII Kota Bekasi 2011

GENERASIINDONESIA – HM Nurhadi kembali terpilih sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia Kota Bekasi, Jawa Barat, periode 2011-2016 melalui Musda yang berlangsung pada hari Sabtu, (9/7) pekan lalu di Gedung Balai Besar Peningkatan Produktifitas Cevest Cikarang, Bekasi Selatan.

HM Nurhadi terpilih kembali dengan mengantongi suara mayoritas meski sempat dihujani interupsi oleh peserta ketika membacakan laporan. Namun karena dianggap lebih visioner dan sangat piawai dalam memimpin, peserta pun memilihnya untuk kembali menduduki kursi Ketua.
“Beliau sosok yang sangat supel, Lembaga Dakwah Islam Indonesia di Kota Bekasi ini memiliki berbagai program yang melibatkan ormas lain terutama dalam menggalang aktifitas positif di kalangan remaja dan pemuda, ini layak ditiru oleh daerah lain. Apalagi akhir-akhir ini pemerintah sedang menggalakkan penggalangan pemuda untuk meredam berbagai aksi tawuran dan sebagainya,” kata Agus Wiebowo, salah satu peninjau.
Musda dihadiri oleh seluruh unsur dalam struktur organisasi DPD yang meliputi DPC hingga PAC di seluruh Kota Bekasi. Seluruh unsur Muspida Kota Bekasi, Majelis Ulama Indonesia dan perwakilan ormas-ormas Islam lain. Dari Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia, hadir sebagai pengisi sesi pembekalan adalah Ratoyo Rasdan yang juga Asisten Deputi Kewirausahaan, Kementerian Pemuda dan Olahraga.
HM Nurhadi dalam pidato sambutan usai penghitungan suara yang mengukuhkannya kembali sebagai Ketua DPD, menegaskan sekali lagi bahwa seia sekata dengan Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia, bahwa DPD Kota Bekasi juga mendukung sepenuhnya empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI adalah harga mati.Hal ini ia sampaikan karena banyak pihak memandang ormas islam identik dengan ekstrimis, tidak nasionalis dan sebagainya.

LDII, NU, Muhammadiyah & Umat Islam DKI Takbir Akbar di Istiqlal

Jakarta,(9/10),LDII beserta seluruh Ormas islam mengajak seluruh kaum muslim di Indonesia untuk dapat menjadi solusi berbagai persoalan bangsa terutama dalam mengatasi kemiskinan yg selama ini menjadi persoalan yg tidak terselesaikan di Indonesia.

Ketua DPP LDII yg  juga pantia Takbir Akbar di Istiqlal H. Prasetyo Sunaryo mengatakan selama ini peran serta umat islam di Indonesia dalam memerangi kemiskinan masih sangat minim, meski sebagian besar penduduk indonesia memeluk agama islam. “Sebagian besar penduduk miskin di Indonesia adalah kaum muslimin. Kalau kita lihat saat ini umat islam di Indonesia bahkan diseluruh dunia saat ini masih belum berperan sebagai pemberi solusi pemecahan masalah kemiskinan tapi masih sering dituding sebagai pembuat masalah.”tambahnya.

Data BPS menyebutkan bahwa ada 31 juta penduduk Indonesia hidup dalam kemiskinan.Menurut Prasetyo  hal ini seharusnya dijadikan ladang amal sholeh bagi kamu muslimin di Indonesia untuk bisa berperan serta dengan pemerintah guna penanggulangan kemiskinan tersebut.

“Dalam hadist diriwayatkan bahwa kemiskinan mendekatkan diri kepada kekufuran,hal ini harus disadari oleh kaum muslimin indonesia untuk dapat menolong saudaranya dan lingkungan disekitarnya karena sebagian besar masyarakat miskin di Indonesia adalah umat islam.”kata prasetyo kepada wartawan di jakarta hari ini.

Lebih lanjut prasetyo mengatakan sebagai umat terbesar di Indonesia kaum muslim diajak untuk kembali meneladi sifat yang di miliki Nabi Muhamad yg selalu berjuang tidak hanya menyebarkan agama Islam belaka tetapi juga berusaha memakmurkan setiap wilayah dimana islam tersebut berada.

“Keberadaan agama islam sebagai “Rahmatan Lil Alamin” akan semakin bermakna manakala seluruh pemeluknya dapat memberikan kesejahteraan dan rasa aman di lingkungan masing-masing. Bayangkan kalau setiap 1 keluarga muslim dapat melakukan hal itu maka kedamaian dan kemajuan islam akan semakin cepat,”tegasnya.

Selain masalah kemiskinan,menurut prasetyo kaum muslimin juga harus bisa menjadi pelopor dalam berbagai kegiatan yg memajukan bangsa indonesia tanpa harus meninggalkan kaidah agama. “banyak ladang amal sholeh yg bisa dikembangkan kaum muslimin tanpa harus melakukan kekerasan seperti yg terjadi saat ini,”imbuhnya.

Sementara itu Ketua departemen pemudan Dewan Masjid Indonesia H. Daud poliradja mengatakan, mementum takbir akbar yg di ikuti hampir semua ormas islam ini dapat dijadikan titik balik kebangkitan Islam di Indonesia.

“ini untuk pertama kalinya seluruh ormas islam terlibat dalam acara takbir akbar.Kita harapkan mereka yg selama ini berjalan sendiri-sendiri kedepan akan saling sinergi membangun bangsa indonesia dengan memerangi kemiskinan. Mereka antara lain Dewan Masjid Indonesia, LDII,NU,Muhamadiyah,Badan Koordinasi Pemuda Masjid seluruh Indonesia,Majelis Nurul Mustofa,Persis,dll yg saya tidak bisa sebutkan satu persatu”kata Daud.

Daud menambahkan sebagai negara muslim terbesar di dunia umat islam di Indonesia diharapkan mampu dan berperan aktif dalam menyelesaikan berbagai persoalan baik didalam negeri ataupun dunia internasional. sehingga Islam dapat kembali menuju zaman ke emasan seperti masa terdahulu.

Pada kesempatan yang sama, Menurut Prasetyo juga dibagikan santunan sebanyak 10 ribu anak yatim piatu.”Penyerahan santunan itu dilakukan oleh Menteri Negara BUMN kepada mereka (anak yatim ) dari berbagai daerah yang ada disekitar jabotabek,” kata prasetyo.

Waspada Teroris, Ponpes LDII Perketat Pendaftaran

Menara Pondok Pesantren LDII Kediri - Jawa Timur

Menara Pondok Pesantren LDII Kediri - Jawa Timur

Kediri (ANTARA News) – Pondok Pesantren (Ponpes) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kediri, Jawa Timur, memperketat sistem pendaftaran santri asal Malaysia yang ikut program pesantren kilat selama bulan Ramadan.

“Setiap santri yang akan belajar di sini harus melengkapi diri dengan identitas diri dan surat-surat penting yang dikeluarkan pemerintah. Terlebih terhadap santri asal Malaysia, karena kami tidak ingin pondok ini disusupi teroris,” kata Pimpinan Ponpes LDII H Kuncoro kepada ANTARA di Kediri, Jumat.

Menurut dia, sekarang ada sembilan warga negara Malaysia yang tengah mengikuti program pesantren kilat selama bulan Ramadan di Ponpes LDII yang berlokasi di Jalan HOS Cokroaminoto No 195, Kediri.

Dari sembilan warga negara Malaysia itu, enam diantaranya berjenis kelamin perempuan dan semuanya menetap di rumah sewa yang ada di sekitar lokasi pondok pesantren yang didirikan almarhum KH Nurhasan Al Ubaidah pada 1952 itu.

Kuncoro menjamin, semua santri asal Malaysia yang tengah mengikuti program pesantren Ramadan itu tidak terkait dengan jaringan terorisme di bawah komando Nurdin M Top yang sampai sekarang masih buron.

“Kami tidak segan-segan menolak calon santri yang kelengkapan identitas dirinya kurang. Meski dia penduduk sekitar sini, tapi kalau tidak memiliki KTP dan surat keterangan dari lurah, pasti kami tolak,” ujarnya menegaskan.

Demikian halnya bagi calon santri asal daerah lain, tidak akan bisa menimba ilmu di Ponpes LDII jika tidak membawa surat jalan dari pemerintah daerah asal calon santri yang bersangkutan.

“Dulu kami tidak seketat ini. Meski ada jaminan dari kenalan atau saudara yang mondok di sinipun, kalau tidak ada identitas dan surat-surat keterangan lainnya tidak akan kami terima,” kata Wakil Pimpinan Ponpes LDII H Ibrahim menimpali.

Kebijakan tersebut diambil, lantaran beberapa waktu lalu pondok pesantren yang dihuni sekitar 2.000 santri dari seluruh pelosok Tanah Air dan sebagian dari negara tetangga itu, menjadi incaran petugas intelijen karena diduga menjadi tempat persembunyian pelaku terorisme.

Meski pada akhirnya tidak terbukti, namun pimpinan Ponpes LDII melakukan tindakan preventif kalau-kalau memang ada diantara ribuan santrinya itu ada yang terlibat jaringan terorisme.

Sebelumnya, santri asal Malaysia yang “mondok” di Ponpes LDII jumlahnya mencapai belasan orang, namun belakangan ini tinggal sembilan orang saja.

“Selain dari Malaysia, dulu santri kami ada yang berasal dari Brunei dan Singapura. Sekarang ini hanya ada santri dari Malaysia yang ikut program kilatan,” papar Ibrahim menjelaskan.(*)

(Sumber: www.antara.co.id)

Presiden SBY Terima LDII di Istana

sby01

Presiden SBY menjabat tangan Ketua Umum LDII K.H. Abdullah Syam

ISTANA NEGARA │Selasa, 23 Juni 2009│

Hari Selasa (23/6) pagi di Kantor Kepresidenan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima Pengurus Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), yang tanggal 10 s/d 12 Juni 2009 lalu menyelenggarakan Rapimnas. Kepada Presiden, pimpinan LDII melaporkan hasil-hasil Rapimnas, termasuk 11 butir pokok-pokok pikiran dan masukan kepada Presiden.

“Presiden SBY sempat membahas satu persatu 11 butir pikiran yang konstruktif dan kontributif terhadap perjalanan bangsa ini,” kata Juru Bicara Presiden, Andi Mallarangeng. “Butir-butir pikiran itu, termasuk bagaimana LDII mengawal proses demokrasi dalam pemilihan presiden yang bisa memberi rahmat bagi masyarakat Indonesia tersebut sangat diapresiasi,” lanjutnya.

Ketua Umum LDII, K.H. Abdullah Syam, menyampaikan bahwa dalam AD/ART LDII tercantum Rapimnas. “Kita melihat ada satu dinamika dalam perubahan tiap lima tahun sekali dalam demokrasi, pemilihan presiden. Kita lihat ada sumber daya manusia, demokrasi, menyangkut kedaulatan Indonesia. Kami berupaya memberi kontribusi kepada penegakan demokrasi yang bermakna, ” jelas Abdullah.

“Ada lima lembaga pemerintah yang bisa hadir, para pakar yang berkaitan dengan lembaga dakwah dan dibuka Presiden yang diwakili Menteri Agama. Menkes juga hadir. Disitu kita mendapat bantuan 19 pos kesehatan, masing-masing senilai Rp. 19 juta, diresmikan di Bandar Lampung. Tiga puluh lainnya diusulkan untuk 2009,” ujar Abdullah. Jaksa Agung hadir dalam topik supremasi hukum, Kapolri hadir dalam peran ormas dan kamtibnas, dan Menkominfo hadir dalam pembahasan teknologi sebagai media dakwah,” terang Abdullah.

4436

Pimpinan LDII melaporkan hasil Rapimnas LDII 2009

Sebelas keputusan Rapimnas tersebut direspon satu-persatu oleh Presiden. “LDII sangat berterimakasih kepada Presiden SBY. Kami berharap hasil Rapimnas dapat memberikan penguatan. Ini kontribusi kita dalam Rapimnas, dan sudah direspon dengan baik, semoga bisa memberikan manfaat dan maslahat bagi bangsa,” Abdullah menjelaskan.

Presiden SBY, Menseneg dan Pimpinan DPP LDII berfoto bersama

Presiden SBY, Menseneg dan Pimpinan DPP LDII berfoto bersama

Saat menerima tamunya Presiden SBY didampingi Mensesneg Hatta Rajasa, Seskab Sudi Silalahi dan Menkominfo M. Nuh. Sementara pengurus Dewan Pimpinan Pusat LDII yang diterima SBY antara lain, Ketua Umum K.H. Abdullah Syam, Dewan Penasehat K.H. Abdul Syukur, K.H. Mulyono, Shobar Wiganda, Kriswanto Santoso, dan Ratoyo Rasdan. (osa)

(sumber: www.presidensby.info)

Jusuf Kalla Mewakilkan Kehadirannya Dalam Pesantren Kilat Sunan Nasai Juz 7

Nasai

LDII Jatibening.      Wakil Presiden H.Jusuf Kalla yang diwakili Halim Kalla menutup Pesantren Kilat Hadits Sunan Nasa’i Juz 7 pada hari minggu 31 Mei 2009 yang baru lalu di Pondok Pesantren Syairullah Jl. Melati 1C Jatibening Baru, Pondok Gede Bekasi Barat.

 

Dalam kesempatan tersebut atas nama Jusuf Kalla, Halim Kalla menyampaikan permohonan maaf Bapak Wapres tidak berkenaan hadir karena pada waktu bersamaan harus menghadiri acara lain, lebih lanjut disampaikan,

 

“…saya berharap apa yang sudah dipelajari bisa bermakna dalam kehidupan dan kesejahteraan untuk kehidupan yang lebih baik, Insya Allah dilain kesempatan beliau (Bapak JK) dapat bersilaturrahim dengan para santriwan-santriwati Ponpes Syairullah ini, kan Lebih Cepat Lebih Baik… ha..ha.” demikian Halim menambahkan.

 

Sebanyak 2500 peserta yang berasal dari sekitaran Jabotabek hadir memeriahkan Pesantren Kilat ini selama seminggu penuh mulai 23 Mei lalu. Mereka selalu terlihat semangat dan antusias dalam menyerap materi hadits yang disampaikan oleh Ustadz H Zainal Muchid.

 

Pesantren Kilat ini diikuti pula secara On Line oleh mereka yang jauh dengan memanfaatkan teknologi internet yang ada sekarang, beberapa peserta on line dari dalam negeri diantaranya dari Surabaya, Kediri, Garut, Bandung, Jakarta dan Bekasi. Sedangkan dari luar negeri diantaranya ada yang dari Scotlandia, California-US, Maine-US, Bermuda Island, Tsukuba-Japan, Nagoya-Japan, Hongkong dan Qatar.

 

Pondok Pesantren yang telah berdiri sejak 14 Juli 2002 dan saat ini memiliki 154 santri ini adalah hasil swadaya murni warga LDII yang dikelola oleh Yayasan Syairullah. Sejak masa didirikannya Ponpes ini telah banyak mencetak ustadz-ustadzah/ mubaligh-mubalighat yang sudah tersebar keseluruh nusantara dalam rangka dakwah dan pembinaan pendidikan agama Islam di Indonesia.

 

< Fajar/BksT/Serang/K1>

Mewujudkan Keadilan Ekonomi Dalam Islam

Oleh : Ibnu Anwaruddin, SH

Dalam Q.S. AL-Hujurot (49:10) menyatakan ”sesungguhnya orang-orang mu’min itu adalah bersaudara, oleh sebab itu adakanlah perdamaian antar sudaramu”.
Konsep Islam tentang persaudaraan, persamaan dan keadilan merupakan konsep yang mendasari setiap bidang kehidupan seperti dalam bidang moral, social dan ekonomi.
Jika kita melihat penerapan yang dilakukan oleh bank islam dalam menyalurkan pembiayaan, maka sebenarnya hal tersebut diadaptasi dari konsep masyarakat islam itu sendiri. Yang paling utama dalam penerapan konsep ini adalah peranan bank islam dalam mendistribusikan modal kepada pihak yang membutuhkan.
Dalam bukunya “Mengembangkan Bank Islam di Indonesia”, H.M. Amin Aziz mengelompokkan konsepsi Masyarakat Islam dalam 7 hal:
Yang pertama; Persaudaraan. Perwujudan nilai-nilai ukhuwah atara lain dapat diwujudkan dengan memiliki kepekaan dan empati terhadap kehidupan saudara-saudara kita yang kekurangan, memberikan santunan kepada yang lemah. Masyarakat yang mampu dan kaya jika tidak ingin secara langsung dapat menyalurkan dananya dengan bentuk tabungan, deposito dan sejenisnya kepada Bank Syariah, BPR Syariah, BMT maupun Koperasi. Agar dana tesrebut dapat dimanfaatkan untuk masyarakat kecil melalui penyaluran pembiayaan di sector usaha mikro dan kecil.
Kedua; Mengayomi kaum lemah. Islam menyerukan kepada penganutnya aar senantiasa membela dan mangayomi kepentingan kaum lemah dan miskin. Dalam hal ini, secara ideal Bank Islam mempunyai peranan sangat penting terutama dalam mengangkat taraf kehidupan masyarakat ekonomi lemah. Teknisnya adalah dengan memberikan modal kerja dengan beban bagi hasil ringan, memberikan bantuan teknis keterampilan serta manajemen dalam pengembangan usaha di sektior kecil.
Ketiga; Dinamis. Dalam Q.S. Al-baqoroh (2:30) menerangkan bahwa manusia (orang-orang yang beriman) adalah khalifah Allah di muka bumi. Sebagai konskuensinya, manusia dituntut untuk mengembangkan kuaitas hidup di segala sector kehidupan, sehingga masyarakat muslim terdorong untuk meningkatkan imajinasi, berpikir kreatif dan dinamis dalam mengembagkan usahanya di segala bidang.
Ke-empat; Memuliakan kerja dan prestasi. Setiap orang wajib bekerja untuk mencari rezeki Allah, menganggurkan diri adalah suatu sikap dan kondisi hidup yang tercela di mata islam. Q.S. AL-Mulk (67:15) menyatakan “Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekinya”. Berjalan di segala penjuru dapat diterjemahkan dalam arti luas sebagai bekerja atau mencari rezeki di segala bidang kehidupan, Allah tidak memerintahkan manusia untuk memakan semua rezeki yang didapatkan, akan tetapi sebagian saja, karena sebagian lagi ada kewajiban manusia untuk ber-infak.
Ke-lima; Mengutamakan memberi. Menurut Islam perilaku memberi jauh lebih mulia daripada perilaku meminta-minta. Perilaku meminta dapat menurunkan harkat dan martabat manusia. Hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Imam Nas’I dan Tirmidzi menerangkan bahwa “mengemis adalah noda yang diletakkan seseorang pada wajahnya, kecuali memintalah pada penguasa atau pada meminta dalam hal ia sama sekali tidak dapat menghindarinya (sangat terpaksa)”.
Ke-enam; Disiplin, terencana dan berorientasi masa depan. Seorang mu’min senantiasa wajib mendasarkan hukum Alquran dan Alhadist dalam menjalankan kehidupannya. Konskuensinya, seorang mu’min harus mampu menunjukkan sikap disiplin mengikuti konsep serta batas-batas hukum yang berlaku. Demikian pula perilaku manusia harus berorientasi masa depan, sehingga penuh perencanaan yang matang dan tujuan apa yang hendak dicapai. Seperti halnya organisasi mempunyai visi-misi, oleh karena itu ada perencanaan strategis (renstra), program kerja dan lain-lain.
Ke-tujuh; Mengutamakan pemanfaatan modal dan berorientasi produktif. Zakat, infak & shodaqoh merupakan salah satu rangkaian ibadah.  Dengan zakat,  infak & shodaqoh diharapkan sumber kemiskinan dan kemelaratan dapat dilenyapkan. Di Indonesia yang mayoritas muslim, jika penggalian sumber zakat dari Mustahiq dapat optimal, kemudian distribusi serta pemanfaatan untuk modal kerja dalam proses produksi yang produktif maka niscaya akan mampu membantu menopang keterpurukan ekonomi kaum lemah / dhuafa. Di sinilah salah satu letak keadilan akan tercapai menurut konsepsi ekonomi islam.
Ideal memang konsepsi masyarakat islam di atas. Lalu dapatkah semudah itu kita mengaplikasikannya dalam kehidupan kita?, Tidak sulit, asalkan kita dapat berpikir kreatif, ada “good will” dari diri kita dan melakukan syiar tersebut kepada segenap umat muslim dalam segala tingkatan. Di samping peran pemerintah yang harus lebih signifikan, apalagi Indonesia sebagai negara dengan umat muslim terbesar di dunia saat ini, hendaklah bisa memberikan stimulus serta model yang efektif dalam mengaplikasikan ekonomi islam yang berlandaskan pada konsepsi masyarakat islam di atas.
Kita memiliki Usaha Bersama (UB) yang juga memiliki konsep berlandaskan atas usaha kebersamaan, kemandirian dan tolong menolong. Peran Usaha Bersama (UB) yang telah diprogramkan LDII lebih dari sepuluh tahun lalu ini sebenarnya bisa dimaksimalkan lagi. Idealnya, UB hanya berfungsi sebagai pengelola dana (fund raiser), mengumpulkan saham untuk selanjutnya disalurkan kepada para pengusaha, baik usaha kecil, menengah atau kelas atas.
Banyak pengusaha sukses di lingkugan kita yang dapat dititipi modal dari UB, sehingga UB hanya berfungsi sebagai funder (pendana), tanpa langsung terjun di bidang usaha tersebut secara langsung, namun berfungsi sebagai pengawas serta menerima laporan secara transparan dari pengelola modal dan bila perlu melakukan audit secara berkala.
Para pengelola / pengurus UB akan lebih bak lagi jika dibekali pengetahuan secara professional selayaknya Account Officer, atau minimal menguasai mekanisme penyaluran pembiayaan yang tepat dan selektif. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan workshop secara berkala melibatkan para Bankir Syariah professional, sehingga dalam mengelola dan meyalurkan pembiayaan nantinya dapat memiliki pertimbangan hukum serta analisa bisnis yang cukup, sebelum mengambil keputusan menyalurkan pembiayaan atau droping dana kepada para pengelola usaha.
Para pengusaha baik kecil maupun menengah yang akan menggunakan dana pembiayaan dari UB juga wajib memiliki legalitas usaha, bilamana perlu harus memiliki agunan yang cukup. Karena ada sebagian pengusaha yang memakai dana dari UB setelah usahanya merugi tidak dapat mengembalikan sebagian ataupun seluruh dana dari UB, karena tidak memiliki agunan maka tidak ada yang bisa dijual untuk pengembalian dana, akhirnya habislah modal / saham UB tersebut.
Setiap transaksi pembiayaan harus menggunakan model perjanjian yang standar. Bila perlu memenuhi standar legal perbankan.  Sehingga dengan perjanjian tersebut, para pengusaha yang menggunakan dana dari UB tidak akan bersikap main-main, melainkan penuh prinsip kehati-hatian karena adanya ikatan perjanjian yang mengikat kedua belah pihak denga segala konskuensinya.
Untuk mengaplikasikan konsep di atas, maka UB harus didorong menjadi Baitul Maal Wa-Tanwil (BMT) atau Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS). Dengan Badan Hukum Koperasi dan modal relative kecil, BMT sudah dapat didirikan. Lain halnya dengan BPRS yang memerlukan Badan Hukum Perseroan Terbatas dan kewajiban modal disetor minimal 1,5 Milyar rupiah.
Ketentuan tersebut harus dijlankan agar kegiatan usaha berupa pengumpulan modal tidak melanggar ketentuan Pasal 46 UU no.10 tahun 1998 tentang Perbankan, yang isinya antara lain sanksi pidana 5 hingga 15 tahun penjara bagi pengumpul dana tanpa ijin dan denda sebesar 10 hingga 20 milyar rupiah.
Modal kerja yang dimiliki UB saat ini jika digabung mungkin lebih dari cukup untuk membentuk BMT bahkan BPRS di tiap-tiap daerah. Hal demikian akan lebih efektif dan dapat mendorong para pengurus / pengelola UB untuk meningkatkan kapasitas SDM-nya, mengingat sebagian UB sekarang ini dikelola dengan SDM yang belum maksimal, ironisnya lagi sebagian besar belum berbadan hukum. Sasaran kegiatan UB yang saat ini kebanyakan masih terbatas kepada sector retail seperti penyediaan sembako, kelontong akan lebih baik jika bisa dimaksimalkan dan dikembangkan pada sector-sektor usaha lain, apalagi bisa berubah menjadi BMT, BPRS bahkan Bank Umum Syariah. Semoga!.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.