LDII Islah Dalam Miscommunication di Jember

Minggu, 23 Sept 2007
Perusakan Musala Diakhiri Islah

JEMBER – Konflik perusakan mushala yang belum selesai dibangun akhirnya diselesaikan dengan cara islah. Ketua Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Jember Drs H Budiono MSi menegaskan, persoalan itu tak perlu diperpanjang. Lebih-lebih saat ini adalah bulan Ramadhan.

Dia menegaskan, jujur, pihaknya sangat menyesalkan perusakan musala oleh orang tak dikenal tersebut. Sebab, akibat kejadian itu, suasana sempat kurang kondusif dan umat muslim khususnya sempat kurang khusyuk menjalankan Ramadan. “Karenanya, kami mohon maaf. Mari kita ambil hikmah dengan meningkatkan toleransi,” katanya, kemarin.

Namun demikian, dia menjamin LDII tidak akan melakukan aksi balasan dan justru akan terus berupaya meredam masalah. Persoalan perobohan musala sendiri dinilai bukan karena kebencian terhadap LDII, tapi murni karena masalah kesalahpahaman. Akar masalah, sebenarnya adalah kurangnya komunikasi rencana pembangunan musala antara warga LDII setempat dengan warga sekitar. Termasuk juga komunikasi dengan muspika, instansi terkait, bahkan sampai ketua maupun pengurus RT. “Jadi, murni kesalahpahaman bukan pada perbedaan kepahaman atau aliran keagamaan,” kata Budiono.

Seperti diketahui, Rabu (19/9) sekitar pukul 20.30, mushala milik warga LDII dirusak oleh orang tak dikenal. Musala itu berada di tanah kapling Handayani RT 04/RW IX Desa Tanggul Wetan, Kecamatan Tanggul.

Musala tersebut berukuran 8 x 8 meter dan belum rampung dibangun. Selain temboknya belum selesai dikuliti, musala itu masih beratap terpal. Namun demikian, di bagian dalam musala, sebagian sudah dikeramik.

Kata Budiono, pembangunan musala itu murni atas inisiatif pribadi warga LDII. Jadi, bukan merupakan kebijakan organisatoris. “Hanya ya itu tadi, warga kami kurang mensosialisasikan atau mengkomunikasikan ke warga sekitar,” katanya.

Budiono meyakinkan bahwa ajaran LDII tidak sesat dan menyesatkan. Jika ada pandangan seperti itu dalam masyarakat, itu lebih dikarenakan kurangnya sosialisasi jamaah LDII dengan masyarakat sekitar.

Sebagai upaya mengantisipasi kesalahpahaman ini, LDII sudah membangun komunikasi dengan Majelis Ulama Indonesia. Bahkan, sudah dilakukan sejak dua tahun lalu. “MUI akan bicara di masjid kami, dan dalam waktu dekat kami akan berjamaah salat di masjid Pak Sahilun (Ketua MUI Sahilun Nasir),” kata Budiono.

Kata Budi, tempat ibadah warga LDII bersifat terbuka. Pihaknya memberi kesempatan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menggunakan sebagaimana mestinya dengan menjunjung toleransi dan harmonitas sosial.

Ke depan, pihaknya akan terus menjalin komunikasidan hubungan yang selama ini sudah terjalin baik dengan MUI dan ormas-ormas islam lain di Jember. LDII akan aktif dalam berbagai aktivitas, terutama kegiatan untuk peningkatan religiusitas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: