Idul Fitri, Momentum Bangun Solidaritas Kemajemukan

[JAKARTA] Idul Fitri merupakan momentum bagi seluruh elemen bangsa untuk lebih merekatkan tali silaturahmi, komitmen untuk senantiasa membangun solidaritas kemajemukan. Hari yang fitri tersebut, juga hendaknya mengasah kepekaan sosial dan hidup berdampingan dalam kebersamaan meski berbeda suku, agama, ras, dan antar-golongan dalam menghadapi tantangan berbangsa dan bernegara, serta keteguhan moral dan komitmen bersama.

Demikian benang merah pesan Idul Fitri yang disampaikan oleh Ketua Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Dr Prasetyo Sunarko, Sekretaris Eksekutif Komisi Perdamaian Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Romo Danny Sanusi, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII), Pdt Dr Nus Reimas, dan aktivis Perwalian Umat Buddha Indonesia, Soenarto Wijaya. Mereka dimintai komentar secara terpisah di Jakarta, Senin (29/9) berkaitan dengan Idul Fitri 1429 H, 1-2 Oktober 2008.

Menurut Prasetyo, dalam memaknai Idul Fitri, apabila masa lalu dipenuhi dengan konflik dan dendam, hubungan yang renggang dan persaudaraan yang terputus, maka pada hari yang fitri ini mulailah untuk mengembalikan ikatan dan hubungan persaudaraan tersebut.

“Melalui Idul Fitri manusia dituntut untuk mengaktualisasikan makna memaafkan tersebut dalam lapangan sosial. Dengan kata maaf, seseorang berarti bertanggung jawab untuk menjaga perdamaian dan menghindari konflik. Dalam konteks kehidupan sosial sebagai elemen bangsa dan negara hendaknya hal itu diiringi dengan mengedepankan toleransi dan kebersamaan untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik,” ujarnya.

Makna yang Indah

Sementara itu, Romo Danny Sanusi menilai dalam perayaan Idul Fitri kali ini, ada suatu hal yang perlu dikaitkan antara konteks sosial bangsa dengan makna Idul Fitri yang selalu berorientasi perdamaian. “Beberapa tahun terakhir, beragam kekerasan masih terus mewarnai masyarakat Indonesia baik dalam skala kecil ataupun besar, baik bersifat manifest maupun laten. Saya harap momentum Idul Fitri merupakan bahan perenungan kita bersama untuk tidak lagi melakukan kekerasan berkedok agama,” katanya.

Kekerasan itu, lanjutnya, didorong oleh faktor-faktor yang beragam mulai dari persoalan kecemburuan sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama.

“Pertanyaannya mengapa agama yang selalu mengajarkan perdamaian tetap saja dianggap sebagai bagian dari pemicu konflik. Kami berharap, dalam konteks membangun solidaritas dan kepekaan sosial itu Idul Fitri dapat dimaknai lebih indah,” katanya.

Sedangkan, Pdt Nus Reimas menilai Idul Fitri juga merupakan kesempatan baik bagi bangsa ini untuk merefleksikan kata maaf. Bangsa Indonesia adalah bersaudara, karena itulah pada hari raya yang penuh dengan kasih-sayang dan maaf ini masyarakat Indonesia saling bersilaturahmi dan berkomitmen untuk saling menjaga persaudaraan antarkelompok lintas warna kulit, ras, adat dan agama.

Hal senada diungkap Soenarto Wijaya dari Walubi mengajak seluruh umat beragama, dan seluruh kekuatan nasional pada umumnya, untuk benar-benar menunjukkan keprihatinan yang mendalam untuk menyelamatkan bangsa ini dari krisis.

“Saya melihat adanya kecenderungan semakin sedikitnya para elit, dan pimpinan di tubuh bangsa ini yang sungguh-sungguh mau memikirkan masa depan bangsa sebagai akibat dari terlampau kuatnya kepentingan-kepentingan politik jangka pendek yang diperebutkan. Solidaritas dan kepekaan sosial untuk mewujudkan NKRI lebih baik merupakan tantangan besar bangsa ini,” ujarnya. [E-5]

(sumber www.suarapembaruan.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: