Mewujudkan Keadilan Ekonomi Dalam Islam

Oleh : Ibnu Anwaruddin, SH

Dalam Q.S. AL-Hujurot (49:10) menyatakan ”sesungguhnya orang-orang mu’min itu adalah bersaudara, oleh sebab itu adakanlah perdamaian antar sudaramu”.
Konsep Islam tentang persaudaraan, persamaan dan keadilan merupakan konsep yang mendasari setiap bidang kehidupan seperti dalam bidang moral, social dan ekonomi.
Jika kita melihat penerapan yang dilakukan oleh bank islam dalam menyalurkan pembiayaan, maka sebenarnya hal tersebut diadaptasi dari konsep masyarakat islam itu sendiri. Yang paling utama dalam penerapan konsep ini adalah peranan bank islam dalam mendistribusikan modal kepada pihak yang membutuhkan.
Dalam bukunya “Mengembangkan Bank Islam di Indonesia”, H.M. Amin Aziz mengelompokkan konsepsi Masyarakat Islam dalam 7 hal:
Yang pertama; Persaudaraan. Perwujudan nilai-nilai ukhuwah atara lain dapat diwujudkan dengan memiliki kepekaan dan empati terhadap kehidupan saudara-saudara kita yang kekurangan, memberikan santunan kepada yang lemah. Masyarakat yang mampu dan kaya jika tidak ingin secara langsung dapat menyalurkan dananya dengan bentuk tabungan, deposito dan sejenisnya kepada Bank Syariah, BPR Syariah, BMT maupun Koperasi. Agar dana tesrebut dapat dimanfaatkan untuk masyarakat kecil melalui penyaluran pembiayaan di sector usaha mikro dan kecil.
Kedua; Mengayomi kaum lemah. Islam menyerukan kepada penganutnya aar senantiasa membela dan mangayomi kepentingan kaum lemah dan miskin. Dalam hal ini, secara ideal Bank Islam mempunyai peranan sangat penting terutama dalam mengangkat taraf kehidupan masyarakat ekonomi lemah. Teknisnya adalah dengan memberikan modal kerja dengan beban bagi hasil ringan, memberikan bantuan teknis keterampilan serta manajemen dalam pengembangan usaha di sektior kecil.
Ketiga; Dinamis. Dalam Q.S. Al-baqoroh (2:30) menerangkan bahwa manusia (orang-orang yang beriman) adalah khalifah Allah di muka bumi. Sebagai konskuensinya, manusia dituntut untuk mengembangkan kuaitas hidup di segala sector kehidupan, sehingga masyarakat muslim terdorong untuk meningkatkan imajinasi, berpikir kreatif dan dinamis dalam mengembagkan usahanya di segala bidang.
Ke-empat; Memuliakan kerja dan prestasi. Setiap orang wajib bekerja untuk mencari rezeki Allah, menganggurkan diri adalah suatu sikap dan kondisi hidup yang tercela di mata islam. Q.S. AL-Mulk (67:15) menyatakan “Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekinya”. Berjalan di segala penjuru dapat diterjemahkan dalam arti luas sebagai bekerja atau mencari rezeki di segala bidang kehidupan, Allah tidak memerintahkan manusia untuk memakan semua rezeki yang didapatkan, akan tetapi sebagian saja, karena sebagian lagi ada kewajiban manusia untuk ber-infak.
Ke-lima; Mengutamakan memberi. Menurut Islam perilaku memberi jauh lebih mulia daripada perilaku meminta-minta. Perilaku meminta dapat menurunkan harkat dan martabat manusia. Hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Imam Nas’I dan Tirmidzi menerangkan bahwa “mengemis adalah noda yang diletakkan seseorang pada wajahnya, kecuali memintalah pada penguasa atau pada meminta dalam hal ia sama sekali tidak dapat menghindarinya (sangat terpaksa)”.
Ke-enam; Disiplin, terencana dan berorientasi masa depan. Seorang mu’min senantiasa wajib mendasarkan hukum Alquran dan Alhadist dalam menjalankan kehidupannya. Konskuensinya, seorang mu’min harus mampu menunjukkan sikap disiplin mengikuti konsep serta batas-batas hukum yang berlaku. Demikian pula perilaku manusia harus berorientasi masa depan, sehingga penuh perencanaan yang matang dan tujuan apa yang hendak dicapai. Seperti halnya organisasi mempunyai visi-misi, oleh karena itu ada perencanaan strategis (renstra), program kerja dan lain-lain.
Ke-tujuh; Mengutamakan pemanfaatan modal dan berorientasi produktif. Zakat, infak & shodaqoh merupakan salah satu rangkaian ibadah.  Dengan zakat,  infak & shodaqoh diharapkan sumber kemiskinan dan kemelaratan dapat dilenyapkan. Di Indonesia yang mayoritas muslim, jika penggalian sumber zakat dari Mustahiq dapat optimal, kemudian distribusi serta pemanfaatan untuk modal kerja dalam proses produksi yang produktif maka niscaya akan mampu membantu menopang keterpurukan ekonomi kaum lemah / dhuafa. Di sinilah salah satu letak keadilan akan tercapai menurut konsepsi ekonomi islam.
Ideal memang konsepsi masyarakat islam di atas. Lalu dapatkah semudah itu kita mengaplikasikannya dalam kehidupan kita?, Tidak sulit, asalkan kita dapat berpikir kreatif, ada “good will” dari diri kita dan melakukan syiar tersebut kepada segenap umat muslim dalam segala tingkatan. Di samping peran pemerintah yang harus lebih signifikan, apalagi Indonesia sebagai negara dengan umat muslim terbesar di dunia saat ini, hendaklah bisa memberikan stimulus serta model yang efektif dalam mengaplikasikan ekonomi islam yang berlandaskan pada konsepsi masyarakat islam di atas.
Kita memiliki Usaha Bersama (UB) yang juga memiliki konsep berlandaskan atas usaha kebersamaan, kemandirian dan tolong menolong. Peran Usaha Bersama (UB) yang telah diprogramkan LDII lebih dari sepuluh tahun lalu ini sebenarnya bisa dimaksimalkan lagi. Idealnya, UB hanya berfungsi sebagai pengelola dana (fund raiser), mengumpulkan saham untuk selanjutnya disalurkan kepada para pengusaha, baik usaha kecil, menengah atau kelas atas.
Banyak pengusaha sukses di lingkugan kita yang dapat dititipi modal dari UB, sehingga UB hanya berfungsi sebagai funder (pendana), tanpa langsung terjun di bidang usaha tersebut secara langsung, namun berfungsi sebagai pengawas serta menerima laporan secara transparan dari pengelola modal dan bila perlu melakukan audit secara berkala.
Para pengelola / pengurus UB akan lebih bak lagi jika dibekali pengetahuan secara professional selayaknya Account Officer, atau minimal menguasai mekanisme penyaluran pembiayaan yang tepat dan selektif. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan workshop secara berkala melibatkan para Bankir Syariah professional, sehingga dalam mengelola dan meyalurkan pembiayaan nantinya dapat memiliki pertimbangan hukum serta analisa bisnis yang cukup, sebelum mengambil keputusan menyalurkan pembiayaan atau droping dana kepada para pengelola usaha.
Para pengusaha baik kecil maupun menengah yang akan menggunakan dana pembiayaan dari UB juga wajib memiliki legalitas usaha, bilamana perlu harus memiliki agunan yang cukup. Karena ada sebagian pengusaha yang memakai dana dari UB setelah usahanya merugi tidak dapat mengembalikan sebagian ataupun seluruh dana dari UB, karena tidak memiliki agunan maka tidak ada yang bisa dijual untuk pengembalian dana, akhirnya habislah modal / saham UB tersebut.
Setiap transaksi pembiayaan harus menggunakan model perjanjian yang standar. Bila perlu memenuhi standar legal perbankan.  Sehingga dengan perjanjian tersebut, para pengusaha yang menggunakan dana dari UB tidak akan bersikap main-main, melainkan penuh prinsip kehati-hatian karena adanya ikatan perjanjian yang mengikat kedua belah pihak denga segala konskuensinya.
Untuk mengaplikasikan konsep di atas, maka UB harus didorong menjadi Baitul Maal Wa-Tanwil (BMT) atau Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS). Dengan Badan Hukum Koperasi dan modal relative kecil, BMT sudah dapat didirikan. Lain halnya dengan BPRS yang memerlukan Badan Hukum Perseroan Terbatas dan kewajiban modal disetor minimal 1,5 Milyar rupiah.
Ketentuan tersebut harus dijlankan agar kegiatan usaha berupa pengumpulan modal tidak melanggar ketentuan Pasal 46 UU no.10 tahun 1998 tentang Perbankan, yang isinya antara lain sanksi pidana 5 hingga 15 tahun penjara bagi pengumpul dana tanpa ijin dan denda sebesar 10 hingga 20 milyar rupiah.
Modal kerja yang dimiliki UB saat ini jika digabung mungkin lebih dari cukup untuk membentuk BMT bahkan BPRS di tiap-tiap daerah. Hal demikian akan lebih efektif dan dapat mendorong para pengurus / pengelola UB untuk meningkatkan kapasitas SDM-nya, mengingat sebagian UB sekarang ini dikelola dengan SDM yang belum maksimal, ironisnya lagi sebagian besar belum berbadan hukum. Sasaran kegiatan UB yang saat ini kebanyakan masih terbatas kepada sector retail seperti penyediaan sembako, kelontong akan lebih baik jika bisa dimaksimalkan dan dikembangkan pada sector-sektor usaha lain, apalagi bisa berubah menjadi BMT, BPRS bahkan Bank Umum Syariah. Semoga!.

2 Tanggapan

  1. Mohon diberi link ke blog kami LDII Sidoarjo url: http://ldii-sidoarjo-jawatimur.blogspot.com/

    AJKK

    Hormat kami
    Budi Waluyo

  2. dengan doa, system dan mempunyai konsep yang jelas dibarengi kemampuan dan kerja keras saya yakin UB akan jaya. Smoga akan menjadi contoh untuk UB yg belum maksimal atau yg masih merugi. Saya mohon adakah yg mempunyai bab UB dari awal sampai akhir selama hampir 11 tahun ini sekalian AD/ART nya. AJkk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: