Profile

اَلسَّالاَمُ عَلَيِْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَهِ وَبَرَكاَتُهُ

Alhamdulillahirobbil ‘alamin, puji syukur kehadirat Alloh SWT mengawali posting pertama ini. Selanjutnya blog ini di buat sebagai wadah ungkapan hati dan pengalaman yang penulis alami dalam menjalani kehidupan sebagai hamba Alloh yang berkewajiban taqwa serta beribadah kepada-Nya dan menjadi bagian masyarakat dalam lingkungan yang bermartabat, berbudi pekerti luhur yang senantiasa menjalin Ukuwah serta Amar Ma’ruf nahi Munkar. Dan besar harapan penulis, blog ini dapat menjadi media Silaturrohim, Ta’aruf dan berbagi informasi yang baik diantara kita semua. Bismillah, semoga menjadi kebaikan dan amalsholih. Amin.

Lembaga Dakwah Islam Indonesia disingkat LDII adalah sebuah organisasi islam di Indonesia. Sebelumnya sejak tanggal 13 Januari 1972 organisasi ini bernama LEMKARI. Pada tahun 1990 saat berlangsungnya Musyawarah Besar LEMKARI ke IV di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, oleh Rudini, Menteri Dalam Negeri saat itu, organisasi ini diubah namanya menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dengan alasan agar namanya tak tertukar dengan Lembaga Karatedo Indonesia yang juga memakai nama LEMKARI. LDII saat ini dipimpin oleh Ketua Umumnya Prof.Riset.Dr.Ir. KH. Abdullah Syam, MSc yang memiliki perwakilan di setiap provinsi dan 407 DPD Kota/Kabupaten, 4500 PC dan ribuan masjid yang tersebar di seluruh nusantara. Jumlah pengikut LDII menurut data statistik organisasi antara 25-29 juta jiwa di seluruh dunia. Pemerintah RI dan MUI juga mengakui bahwa warga LDII memiliki budiluhur yang baik dan menghormati hukum.
Metode Pengajaran LDII
Di dalam mengajarkan ilmu Alqu’ran dan Alhadits, LDII tidak menggunakan sistim kelas seperti pada umumnya. Metode penyampaian guru membacakan Al Quran,mengartikannya secara kata per kata dan menafsirkannya dengan dasar penafsiran dari hadits yang berkaitan dan penjelasan beberapa ahli tafsir, misalnya tafsir Ibn Katsir. Murid-murid mencatat arti kata-per kata di Al Qurannya dan juga penjelasan tafsirnya. Untuk AL Hadits cara yang sama diajarkan, dimana guru dan murid sama-sama memgang hadits yang sama dan melakukan kajian. Hadits yang dipelajari adalah utamanya hadits kutubussittah (Bukhori, Muslim, Abu Dawud, Nasai, Timidzi, Ibn Majah) dan juga hadits lainnya seperti Malik al Muatho, dan musnad Ahmad., disamping itu mereka juga mempelajari himpunan hadit sesuai temanya, sepeti kitab sholat yang berisi tatacara sholat sesuai ajaran Nabi Muhammad yang tertulis dalam beberapa sumber hadits, kitab puasa (shoum), kitab manasik haji, dan lain-lain. Dengan mempelajari hadits secara langsung dari kitab aslinya berarti secara langsung mengetahui suatu hadits apakah shohih atau lemah, sehingga terhindar dari rusaknya ilmu dan amal mereka. Metode pemaknaan perlafadz itulah yang membuat para anggota LDII banyak menguasai kata-kata arab yang sangat berguna dalam kehidupan beragama. Misalnya mereka dapat mengerti apabila sedang membaca Al Quran tanpa harus mempelajari ilmu bahasa arab atau ilmu alat (nawnu, shorof) karena ulama LDII beranggapan bahwa pencerdasan ilmu Al Quran bukan hanya milik ulama tetapi untuk semua orang, karena memang AL Quran diturunkan untuk seluruh umat manusia bukan hanya untuk ulama tertentu. Semoga Allah Ta’ala memberi petunjuk pada kita semua.
Aktivitas Pengajian LDII
LDII menyelenggarakan pengajian dengan rutinitas kegiatan yang cukup tinggi karena Al Qur’an dan Al Hadits itu merupakan bahan kajian yang cukup banyak dan luas. Di tingkat PAC umumnya pengajian diadakan 2-3 kali seminggu, sedangkan di tingkat PC diadakan pengajian seminggu sekali. Untuk memahamkan agama islam yang sesuai dengan qur’an dan hadist, LDII mempunyai program pembinaan cabe rawit (usia prasekolah sampai SD) yang terkoordinir diseluruh masjid LDII. Selain pengajian umum, juga ada pengajian khusus remaja dan pemuda, pengajian khusus Ibu-ibu, dan bahkan pengajian khusus Manula/Lanjut usia.Ada juga pengajian UNIK (usia nikah) Disamping itu ada pula pengajian secara umum kepada masyarakat yang ingin belajar Al-qur’an dan hadits. Pada musim liburan sering diadakan Kegiatan Pengkhataman Al-qur’an dan hadits selama beberapa hari yang biasa diikuti anak-anak warga LDII untuk mengisi waktu liburan mereka. Dalam pengajian ini pula diberi pemahaman kepada seluruh warga LDII tentang bagaimana pentingnya dan pahalanya orang yang mau belajar dan mengamalkan Al-qur’an dan hadits dalam keseharian mereka. Setiap bulan Ramadhan, terutama pada 10 hari terakhir bulan ramadhan, seluruh masjid LDII selalu penuh sesak digunakan oleh masyarakat beribadah non-stop mulai jam setengah delapan malam (sehabis sholat Isya’) hingga sebelum subuh (sekitar pukul setengah empat pagi) untuk mencari Lailatul Qadar.
Sumber Pendanaan LDII
Didalam membiayai segala macam aktivitasnya menurut ketentuan ART organisasi pasal 35, LDII mendapatkan dana dari sumbangan sah dan tidak mengikat yang sebagian besar dikumpulkan secara sukarela dari warga LDII sendiri (swadana) tanpa paksaan apapun. Selain dari warganya, LDII juga menerima sumbangan dalam berbagai bentuk dari pemerintah RI, swasta maupun perorangan.
Kontroversi
Gerakan LDII merupakan lembaga yang berusaha membangun peradaban Islam berdasarkan tuntunan Al-quran dan Al-hadits tetapi menuai banyak kontroversi dan dianggap sesat oleh beberapa aliran Islam lainnya akibat kesalahpahaman yang sering terjadi akibat rendahnya pengetahuan masyarakat tentang aktivitas pengajian LDII [1], terutama dengan tuduhan mereka terhadap adanya doktrin-doktrin LDII yang diduga tidak sesuai dengan ajaran Islam seperti penghalalan harta kelompok lain di luar kelompok mereka untuk diambil (padahal tidak benar), konsep manquul pada pembelajarannya, pembayaran denda sebagian harta untuk menebus dosa, dan lain-lain. Pihak LDII sendiri membantah hal tersebut dan menuduhnya sebagai propaganda untuk menjatuhkan LDII. Hal tersebut dapat dilihat pada terbitnya buku berjudul “Islam Jama’ah : Di Balik Pengadilan Media Massa”

TANYA JAWAB SEPUTAR LDII
Oleh :
Irham,
(Ketua
PAC LDII Kel. Sangiang Jaya, Kec. Periuk, Kota Tangerang)
Disarikan dari diskusi di dalam e-mail pribadi.

1. T. Jika saya bergabung dengan LDII namun orangtua saya tidak dan suatu ketika beliau meninggal maka saya tidak boleh ikut mensholati jenazah beliau, dengan alasan orangtua saya bukan berasal dari LDII dan jika saya melanggar maka saya berdosa?.. apa itu benar?….
J. Kita ummat Islam ini diwajibkan berbakti kepada orang tua, walaupun dia kafir. Perintah mereka wajib kita tha’ati selama tidak memerintah untuk ma’shiyat. Adapun LDII itu hanya organisasi Islam di Indonesia. Intinya orang tua anda beragama Islam atau tidak, melakukan / mengerjakan syari’at2 Islam atau tidak. Kalau ortu anda mengaku Islam, tapi tidak melaksanakan syari’at2 islam, maka kita tidak boleh mensholatinya. Tetapi kalau ortu anda melaksanakan syari’at Islam dengan sepenuh hati / sungguh2, maka kita boleh / dianjurkan mensholatinya. Bahkan kalau tidak ada sama sekali, maka semua orang Islam di sekitarnya dosa semua.

2. T. Apa tanggapan anda mengenai kerusuhan yang terjadi di Lombok dan Kalimantan mengenai Masjid LDII yang dibakar warga setempat?..
J. Itu adalah perbuatan premanisme, perbuatan main hakim sendiri. Ada tokoh masyarakat yang menggerakkan orang-orang tsb. dan dibayar.

3. T. Apa benar setelah kerusuhan itu terjadi maka setelah pengajian diadakan latihan beladiri untuk para jamaah?…. buat apa, negara kita kan negara hukum?…
J. Latihan beladiri itu sudah ada dari dulu, yaitu dengan kerja sama dengan PERSINAS ASAD (anggota IPSI), adapun waktunya, masing2 daerah tentu punya ijtihad sendiri2. Dan itupun tidak hanya untuk itu, melainkan yang pokok adalah ber-olah raga seperti halnya sepak bola dan lari2, ini juga dikerjakan di LDII. Kalau di tempat lain ada perguruan silat, kenapa anda tidak tanyakan? seperti di Muhammadiyyah ada Tapak Suci, NU ada pagar Nusa, dll. Jadi lebih baik membela diri dari pada jadi korban. Kalau ada penyerangan, kita tidak punya beladiri, apa yang terjadi?
Ada nasehat K.H. Nur Hasan alm. :
a. “Agama tidak akan berjalan bila dipegang oleh orang penakut”,
b. “Berani tidak memendekkan usia, takut tidak memanjangkan usia”,
c. dll.

4. T. Apa benar ada penebusan dosa / kaffaroh?……
J. Ya, ada. dan itu ada di dalam Alqur’an dan Alhadits. Contoh; Zina, kaffarohnya dengan dijilid (bagi ghoir muhshon) dan dirajam sampai mati (bagi pezina muhshon), Mencuri dalam batas minimal …..(dilupakan batasnya) kaffarohnya di potong tangan dan kakinya secara ber-urutan, tidak sekaligus. Dan untuk masalah had berat seperti yang saya sebutkan ini kita (ummat Islam Indonesia) belum bisa melaksanakannya, terbentur dengan peraturan pemerintah / negara RI, dan di dalam alqur’an ada ayat Fattaqullaaha mastatho’tum (Bertaqwalah kalian kepada Allah selama kalian masih mampu
melaksanakan).

5. T. Yang saya maksudkan dengan kaffaroh adalah setelah kita melakukan dosa maka kita wajib memberitahukan kepada ulil amri setempat dan kita harus menebusnya baik secara materi dan nonmateri yang ketentuannya ditentukan oleh imam tersebut, jadi apa setiap dosa bisa dibeli?..
J. Yang benar adalah : setelah kita berbuat dosa, maka kita wajib bertaubat. Dan praktek taubat pada zaman nabi Muhammad s.a.w. adalah dengan 4 syarat taubat yang shah, yaitu:
a. Mengakui kesalahan kepada pemimpin (Nabi / ulil amri),
b. Minta ampun kepada Allah dan orang yang bersangkutan (nabi / ulil amri),
c. Berjanji tidak akan mengulangi lagi, dan
d. Sanggup menunaikan kaffarohnya (bila ada).
Harta benda tidak akan bisa mengantar kita masuk surga Allah kalau tidak disertai dengan iman dan ‘amal sholih. Dan dosa tidak dapat ditukar dengan harta, tapi shodaqoh dan infaq bisa menghapus dosa2 ringan. Termasuk sholat tertib pada waktunya juga bisa menghapusnya.

6. T. Menurut sumber yang bisa dipertanggungjawabkan bahwa ternyata LDII adalah produk2 OrdeBaru jaman pemerintahan H.M Suharto yang dilakukan melalui Alimurtopo dan Rudini yang semata2 hanya meminta dukungan untuk Pemilu tahjun 70-an, apa benar?…
J. memang, secara histori LDII lahir pada zaman orde baru dengan nama Lemkari (1972). Tapi oleh Mendagri kala itu (Bp. Rudini) ketika acara MUNAS / RAKERNAS, beliau mengusulkan kepada pimpinan LEMKARI supaya mengubah namanya biar nggak rancu dengan LEMKARI (lembaga karatedo Indonesia). Apakah begini ini yang disebut bikinan orde baru? Qur’an dan Hadits jauh lebih dulu ada ketimbang orde baru. Dan LDII bukanlah orsospol, tapi ormas islam, lembaga dakwah islam indonesia. yang murni dakwah untuk mengajak semua orang masuk surga Allah selamat dari neraka Allah, dengan cara belajar Qur’an Hadits, berkarya ‘ala Qur’an Hadits, Berjuang untuk Qur’an Hadits, Bersatu dengan acuan Qur’an hadits, dan disiplin atas dasar Qur’an Hadits; yakni tha’at menjalankan perintah Allah, Rosulullah, dan Ulil Amri. Tha’at kepadaAllah dan Rosul itu mutlak, tapi tha’at kepada ulil amri ini hanya dalam hal kebaikan. Adapun bila diperintah dalam kemaksiyatan, falaa sam’a walaa thaa’at, tidak boleh mendengar dan tidak boleh tha’at.
Semua yang saya uraikan itu harus didasari dengan niyat mukhlish (murni) karena Allah, tidak boleh syirik, berbuat bid’ah, percaya khurofat, takhayyul, dan juga pada jin2. Niyat mukhlish karena Allah itu, yaitu ingin mendapatkan apa yang Allah janjikan (sorga) dan ingin selamat / terhindar dari apa yang diancamkam oleh Allah (neraka).

7. T. Apakah dalam pemilu kali ini LDII tetap berada dibawah naungan Partai Politik (Golkar)?
J. Semenjak pemilu 1999, LDII sudah independen, tidak menjadi underbowl Golkar, tidak mengurusi masalah politik. Tapi diserahkan kepada warganya. Termasuk sekarang.

8. T. Sewaktu hendak diadakan debat terbuka oleh para mantan anggota LDII (Bambang dkk) mengapa para Imam khususnya yang berada di Kediri pusat LDII tidak mau datang dan memilih sikap acuh ?….
J. Apa yang mau diperdebatkan? Qur’an dan hadits itu sudah jelas dan tegas. Atau mau dicampuri ro’yu (pendapat pribadi)? Dan lagi, pondok pesantren LDII di Kediri itu bukan pusat LDII, tapi hanya pusat pendidikan muballigh LDII.

9. T. Apa tanggapan Bapak mengenai penipuan sesama LDII baru2 ini bahwa ada seorang jamaah membawa kabur uang sebesar 1.3M dari seluruh jamaah di Indonesia dalam rangka proyek Pendanaan Listrik secara berkala?.. anda pasti tahu bukan?
J. Itu adalah cobaan dari Alloh yang memang berat bagi yang merasakan. Saya sendiri tidak ikut tertipu, karena nggak ikutan. Tapi walaupun begitu saya juga merasakan duka / kesusahan mereka, karena siapapun mereka adalah saudara2 kita. Tentang penipunya (Maryoso), itu adalah warga yang munafiq, kalau dia faham dengan apa yang diajarkan tiap hari dalam pengajian maka hal itu pasti tidak berani dilakukannya. Karena harta orang Islam itu harom dirampas, ditipu, darahnya harom dialirkan, kehormatannya harom diinjak2, rahasianya harom dibeberkan. Tapi dia justru melakukannya, ndak perduli orang sudah jual sawahnya, ndak perduli orang sudah menginvestasikan pesangonnya, maka dia ini adalah munafiq ulung.

10. T. Mengapa anggota LDII tidak boleh menikah dengan orang luar LDII walaupun mereka Islam ?… jika memang tidak boleh apakah alasannya?,,, apa mereka mengukur kadar keimanan dari suatu lembaga keagamaan?
J. Dalam membina keluarga (menikah) tujuan utamanya adalah ibadah, melakukan sunnah Rosulullah s.a.w., melanjutkan keturunan, dan tentunya kedamaian, keharmonisan dan ketenteraman. Nah, kedamaian, keharmonisan, dan ketenteraman ini bisa dicapai bila pasutri (pasangan suami istri) itu sefaham, saling pengertian, saling menghormati. Seorang laki-laki LDII atau seorang perempuan LDII, yang menikah dengan pasangan dari luar LDII tidak ada yang bisa menjamin keluarga yang dibina akan tenteram, karena masing2 sudah ada perbedaan yang prinsipil. Yang orang LDII menganggap yang dilakukan itu penting, yang pasangannya menganggap biasa2 saja, sehingga bila pasangannya melakukan aktifitasnya sebagai warga LDII, tidak didukung, dicemooh, dilecehkan, dsb. Makanya sebagai ijtihad untuk menghindari itu semua supaya warga LDII menikah dengan sesama warga LDII. Dan itu tidak bertentangan dengan Islam kan?
Walaupun begitu, bagi keluarga yang dulunya bukan LDII, kemudian salah satu masuk sebagai warga LDII dan ternyata bisa menjaga kedamaian dan ketenteraman rumah tangganya maka TIDAK DIANJURKAN untuk bercerai. Dan itu banyak contohnya di lingkungan saya ataupun di daerah lain.

11. T. Ada satu kasus seorang ustadz memacari jamaahnya padahal dikatakan bahwa pacaran itu berdosa dan dengan teganya ustad tsb berbuat yang tidak sepantasnya kepada  pacarnya / jamaahnya dan setelah puas ditinggalkan?.. itu sempat kejadian di suatu LDII yang pernah saya ikuti dan saya bisa membuktikan secara otentik baik itu melalui surat dan photo2nya.
J. Itu adalah perbuatan oknum yang tidak bisa disamaratakan kepada seluruh warga LDII. Karena yang begitu tidak hanya terjadi di LDII, tapi di organisasi yang lebih besar lebih banyak terjadi. Jadi tergantung kefahaman agama oknum tsb. Mungkin Anda pernah mendengar kisah pendeta bani Isroil yang dititipi seorang cewek oleh kakak2nya, karena kakak2nya tsb akan berangkat perang. Pertama-tama si pendeta (Rohib) tsb. menyanggupi walaupun harus berjauhan. Tapi lama-kelamaan Syethan lebih pintar untuk menjerumuskan manusia, dan kebetulan Rohib tsb. (dan juga Ustadz tsb.) kurang mutawari’ (wira’i / hati2) sehingga suatu perbuatan yang mendekati zina dia lakukan juga, akhirnya perbuatan zinapun dilakukan juga. Ini mirip, suka nggak suka adalah realita. Cuma alurnya saja yang berbeda. Kalau Rohib tsb. dipaksa milih 3 pilihan; zina, minum2an keras, dan membunuh cewek tsb. Si Rohib berpikir zina dan membunuh dosa besar, sedang minum khomer lebih ringan, akhirnya Rohib tsb. milih minum khomer, tapi lewat pintu itulah ke3 perbuatan dosa itu kemudian dilakukan. Mungkin kasus di tempat anda itu berbeda, tapi ada kemiripan motif yaitu kurangnya kefahaman dan kurang mutawari’

12. T. Apakah LDII sanggup memegang konsekuensi yang dikatakan atau hanya sekumpulan orang2 munafik?…
J. Maksud Anda apa? tolong lebih spesifik dalam berbicara. Anda mengatakan begitu sudah ada unsur penuduhan, bahwa orang LDII munafik. Kalau orang LDII diisukan mengkafirkan golongan muslim selainnya, dan itu tidak benar, Anda tidak hanya isu, tapi sudah melakukan sendiri penuduhan itu.

13. T. Posisi Imam mengapa diatas segalanya? Kenapa imam selalu benar padahal dia manusia juga, Apakah boleh berbuat cabul atau zina mata diantara santri laki2 dan wanita,jika tidak mengapa pada saat pengajian pembatas lelaki dan wanita ditutupi tetapi mengapa selagi shalat tirai tsb dibuka, apa untuk mencari jodoh??? mengapa jika kita melakukan kesalahan kita harus lapor ke imam untuk tobat dan harus membayar kafaroh atas dosa2 itu, asikjuga ya kalo dosa bias ditebus dengan uang, mirip model kristiani ya,kira2 berapa harga dosa jika saya melakukan perzinahan sesama santri LDII, Apakah melakukan zina dengan ustadnya termasuk ibadah dan tidak dosa
J. Dari pada ngomong ngawur begitu, lebih baik ikut ngaji. Lihat dan dengarkan, apakah yang anda katakan itu benar? Jangan AsMa (Asal Mangap / asal bunyi)!!!. Kalau memang anda ksatria, maka anda akan datang langsung, ikuti pengajian, dan carilah kelemahannya / kesesatannya. Jangan hanya kata orang yang membenci anda terima. Saya tidak akan menjawab pertanyaan anda, karena anda type orang yang gampang percaya. Saya berkata LDII itu A, ada orang lain berkata LDII itu B, anda percaya.
Jadi lebih baik dan lebih terpuji kalau anda datang saja ke pengajian LDII. Dan ksatrialah, kalau memang LDII benar, sesuai dengan Qur’an dan hadits, maka ikutilah. Kalau LDII tidak benar / sesat / tidak sesuai dengan Qur’an dan hadits, maka tinggalkanlah.

14. T. Saya terima tantangan Anda tapi dengan syarat, Saya mau ikut di pengajian Anda dan Anda harus mendampingi saya biar saya bisa mendapatkan semua jawaban dari pertanyaan yang nanti akan saya utarakan dan anda juga harus open minded (berpikiran terbuka) bilang benar jika itu benar dan salah bila itu salah bukan benar dan salah versi imam ldii, gimana setuju ngga?
J. Bagaimana mau mendampingi kalau saya nggak tahu anda di mana, begitu pula anda nggak tahu saya ada di mana? Kalau memang Anda sudah ada niyat, silakan datang aja ke muballighnya, tukar pikiran, saling terbuka, jangan ada su’uzh-zhon. Insya’alloh muballigh2 LDII akan dengan sangat antusias menjawab permasalahan anda. Dan banyak muballigh2 LDII yang masih muda2.

———————–

———

LDII Blog Spot Editorial

This news about LDII who are published by Jakarta Post, after one of the LDII leader visiting their office to clarify their box news about LDII in their headlines on Thurday, who have been associated with irrelevant facts.

Unfortunely the link in their website has been removed without any reason. hopely, the editor of their website could consider to publish again this news to cover balance story. For your reference, we provide in this blog of the copy. thanks.

editor

Exclusivity is not our doctrine: LDII
Saturday, October 29, 2005

The Jakarta Post, Jakarta

Leaders of the Indonesian Institute of Islamic
Propagation (LDII) said that exclusivity was not part
of their doctrine as suggested by a table published in
The Jakarta Post on Thursday.

Such a perception would likely stem, among other
things, from behavior displayed by organization
members “whose understanding of the teachings has not
matured,” one of the leaders said when visiting the
Post on Friday, along with other board members.

“It is such members who we are educating,” said Aceng
Karimulloh, a deputy LDII Jakarta branch leader and
among the ulema from the organization.

LDII chairman Teddy Suratmaji, an engineer, said such
a misperception could have resulted from the “stigma”
contributed by members of Islam Jamaah, an exclusivist
and hard-line movement well known in the late 1970s,
which later developed into the LDII.

Islam Jamaah was closely scrutinized by the government
following reports that its followers considered
non-members as infidel or kafir, even though they were
from the same family.

Nowadays, the LDII organization, which is legal, “has
no connection” with Islam Jamaah, according to its
official handbook. Information on LDII can also be
viewed at http://www.ldii.or.id. The handbook addresses all
“frequently asked questions” related to perceptions of
Islam Jamaah and LDII.

Teddy displayed pictures of LDII’s activities in their
bimonthly magazine, Nuansa Persada, which depicted its
interaction with various Islamic groups, “which could
not be possible if we were exclusivist,” Teddy said,
denying that they did not pray with non-members.

Nor it was true that each member must pay 10 percent
of their income to the imam, they said.

Perceptions that LDII members consider non-members as
filth (najis) was also denied.

“In the 1970s, it was commonly accepted that people of
different sexes who were not muhrim (directly related)
could not touch each other,” board member R.
Sabaruddin said, “so maybe people got the idea that
non-members were considered najis. But now this
practice is “common” among many Muslims in the
country.

The logo of LDII, which claims to be independent,
clearly bears the banyan tree, symbol of former
president Soeharto’s political vehicle Golkar, which
sought all potential avenues to increase its control
and influence.

They said that they had intended to change the logo,
but faced resistance from older members.

http://www.thejakartapost.com/detailheadlines.asp?fileid=20051029.A08&irec=6

*. Link has been removed

BLOGROLL:

LDII Berita
LDII on RSS
LDII on DagDigDug
LDII World
LDII Kabar

Satu Tanggapan

  1. Asslmkm……………..

    Salam kenal buat seluruh jama’ah di manapun berada salam kenal dari Ian From Tasikmalaya…..

    saya berharap bisa mengetahui lebih jauh para jama’ah yang berada di luar negeri dan bisa berkomunikasi dengan mereka melalui internet.
    ajkhr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: