Pasca Ramadhan Ini

var gaJsHost = ((“https:” == document.location.protocol) ? “https://ssl.” : “http://www.”);
document.write(unescape(“%3Cscript src='” + gaJsHost + “google-analytics.com/ga.js’ type=’text/javascript’%3E%3C/script%3E”));

var pageTracker = _gat._getTracker(“UA-5672318-1”);
pageTracker._trackPageview();

Pasca Ramadhan, lalu apa?

Setiap orang punya kesan berbeda ketika menjumpai ramadhan. Setiap orang punya harapan berbeda ketika melewati ramadhan. Setiap orang punya cerita yang berbeda ketika merayakan lebaran. Apakah kesan yang nyantel di benak kita sekarang? Setelah ramadhan?

Banyak orang merasakan hal yang biasa. Puasa ya seperti itu. Tarawih ya begitu itu. Lebaran apalagi, dari dulu ya seperti itu. Ada ketupat, opor, lontong dan berbagai kudapan lain aroma pesta. Ada halal bil halal, saling memaafkan, baju baru dan silaturahim antar sesama. Ada mudik, ada kemacetan dan paceklik pembantu di hampir semua pintu.

Sebagian lagi ada yang memaknai ramadhan sebagai ujian. Hari demi hari diisi dengan banyak beribadah. Tekun. Mereka berusaha khusyu’, tawadhu’. Meninggalkan yang lahan – lahan. Menjauhi kemaksiatan. Emoh dosa dan rakus pahala. Mereka menghentikan semua yang tidak berguna. Mengepolkan cari pahala. Bahkan mencoba beramal yang luar biasa. Seolah-olah mencari pulihan. Tetapi begitu lebaran tiba, keadaan menjadi berbeda. Mereka sibuk merayakannya. Mereka sibuk berpesta.  Perut – perut bagai waduk. Terisi sejuta makanan apa saja. Mereka merayakan seolah mereka telah lulus ujian selama sebulan. Alhasil setelah lebaran perilaku mereka kembali seperti semula. Tak ada kelanjutan dan sisa dari amalan bulan ramadhan mengisi hari – hari di depannya.

Sebagian lagi, ada yang memaknai ramadhan sebagai bulan pelatihan. Bulan melatih diri untuk meningkatkan amalan. Bukan bulan ujian. Mereka menyambut bulan ramadhan ini dengan penuh cemas dan hati – hati. Apa yang mau dilatih di bulan suci ini agar meningkat di kemudian hari? Apa yang perlu diperbaiki di bulan lailatul qodar ini? Apa yang perlu disucikan dari harta dan jiwa ini? Doanya selalu minta ampunan. Tarawihnya berlandaskan keikhlasan. Tadarusnya berharap kedekatan. Sedekahnya menuju pada kedermawanan dan i’tikafnya sebagai bukti kesungguhan. Puasanya sebagai media merasakan kehadiran-Nya. Zakatnya sebagai pensuci jiwa dan raganya. Amalan sunnah lainnya ditingkatkan demi keridhoan-Nya. Dan ketika lebaran tiba, gema takbir menjadi pertanda untuk segera mempraktikkan apa yang telah dilatih itu di hari – hari berikutnya. Dengan hati dan jiwa yang suci, semakin trengginas dan methithi. Menyingsingkan baju, mengisi bulan – bulan berikutnya seperti
amalan di bulan ramadhan.

Ada dimanakah kita dari tiga pilihan itu? Pilihan yang biasa – biasa saja, ujian atau pelatihan? Mumpung belum jauh mari kita introspeksi lagi. Adakah kita sudah lupa bagaimana mendirikan 11 rekaat setelah isya’? Adakah kita keberatan untuk tadarus lagi? Adakah kita merasa capek beribadah?  Adakah kita jumawa telah beramal banyak? Adakah susah menjaga ibadah sunnah lainnya? Apakah kita enggan meneruskan tradisi berpuasa? Kenapa semua seolah hilang begitu saja? Kesungguhan itu sirna bersama aroma pesta hari raya. Adakah ada yang kurang pas dengan ibadah kita?

Kekeliruan itu ada pada cara pandang kita terhadap bulan yang mulia dan barokah itu. Kebanyakan kita memandang sebagai bulan ujian bukan sebagai bulan pelatihan. Hasilnya seperti yang banyak kita lihat saat ini. Semua seolah kembali lagi pada kondisi semula, pasca ramadhan dan tidak ada jejak sama sekali yang tersisa. Kecuali aroma pestanya. Setidaknya ketika selesai ramadhan kita bisa dirikan sholat sunnah setelah isya. Tidak perlu 11 rekaat, sebab anyang-anyangen. Mungkin juga tidak qiyamul lail. Cukuplah witir saja sebelum tidur. Setidaknya ketika selesai ramadhan kita bisa sambung puasa sunnahnya, 6 hari di bulan syawal dan tidak perlu banyak – banyak cukup 3 hari saja per bulan lainnya. Untuk menggugah kembali, mari kita simak hadist berikut ini.

Dari Ai’syah r.a, “Sesungguhnya Nabi SAW tidak menambah di dalam bulan Ramadhan dan tidak pula mengurangkannya dari 11 rakaat.(R. Al-Bukhory).

Hadist ini sering kita pahami hanya masalah jumlah rekaatnya saja yaitu 11 rekaat sholat tarawih. Padahal selain itu, hadist ini menampakkan kontinuitas amalan di bulan sebelum, selama dan sesudah ramadhan. Artinya datangnya ramadhan adalah sebagai refreshing, up date, pembaharuan, charge, dan semisalnya bukan sebagai ujian. Ramadhan datang sebagai penggembira ketika kepenatan beribadah dalam 11 bulan datang. Banyak sekali kefadholan – kefadholan ada di dalamnya. Oleh karena itu alangkah naifnya jika ternyata, setelah ramadhan kita berada atau kembali seperti keadaan semula, tanpa bisa menjaga kedawaman salah satu amalan yang kita perbuat dikala ramadhan. Sebab wasiat – wasiat junjungan kita Nabi Muhammad SAW begitu jelas untuk menjaga amalan itu langgeng walau hanya sedikit.

Dari Abu Huroiroh r.a, dia berkata, ”Kekasihku SAW mewasiatkan kepadaku tiga perkara, agar aku berpuasa tiga hari setiap bulan, melaksanakan sholat dhuha 2 rekaat dan melaksanakan sholat witir sebelum tidur.”[Rowahu Al-Bukhory (Kitaabu al-Jumu’ati), Muslim ( Kitaabu Sholaati al-Mufaasiriina wa qoshrohaa), Abu Dawud (Kitaabu As-Sholaah), at-Tirmidzi (Kitaabu as-Shoumi) dan an-Nasa’i (Kitaabu as-Shiyaami) ].

Atau hal senada yang diriwayatkan dari Abu Darda’, dia berkata, “Kekasihku SAW mewasiatkan tiga perkara kepadaku, aku tidak akan meninggalkannya selama aku hidup; yaitu puasa tiga hari setiap bulan, sholat dhuha dan agar aku tidak tidur sebelum sholat witir.” (R. Muslim, Abu Dawud dan an-Nasa’i).

Inilah mungkin yang bisa dijadikan salah satu tambahan new paradigm itu…..??? Wallaahu a’lam bishawab

( di tulis oleh Faizunal Abdilah )

Iklan

LAILATUL QODR

Diriwayatkan Ibnu Abi Hatim:

Dari Ali bin Urwah, Nabi Muhammad SAW pernah bercerita bahwa ada 4 orang dari kaum Bani Isroil yang beribadah selama 80 tahun dan tidak pernah menentang kepada Alloh meski sekejap matapun, 4 orang tersebut adalah:

1.    Nabi Ayub, AS

2.    Nabi Zakaria, AS

3.    Hizkil bin ‘Ajuzz

4.    Yusa’ bin Nun

Mendengar cerita Rasulullah tersebut Ali bin Urwah kaget keheranan terkagum-kagum betapa hebatnya ibadah ke 4 orang Bani Isroil tersebut.

Sesaat kemudian malaikat Jibril datang menghampiri nabi Muhammad SAW, lalu berkata:

Hai Muhammad lihatlah kaum Engkau, betapa terheran-herannya mendengar cerita Mu tentang ke 4 orang Bani Isroil itu padahal sesungguhnya Alloh telah menurunkan yang lebih baik dari itu (Ibadah ke 4 orang Bani Isroil selama 80 tahun tanpa menentang Alloh sekejap matapun).”

Kemudian kepada nabi Muhammad SAW Malaikat Jibril membacakan wahyu Alloh SWT (QS. Al-Qodr) berikut ini:

Selanjutnya malikat Jibril mengatakan kepada Nabi Muhammad SAW,

“Lailatul Qodr ini lebih afdhol dari apa yang Engkau dan umat Engkau herankan atas ibadah ke 4 orang Bani Isroil itu.”

Serta merta Nabi Muhammad dan para sahabat saat itu merasa senang tak terkira.

Subhannalloh, meski kita kaum akhir zaman yang nota bene lemah diberi kesempatan oleh Alloh untuk meraih keutamaan yang lebih besar dengan usaha yang lebih mudah dan ibadah yang lebih ringan jika dibanding kaum-kaum terdahulu yang kuat dan tentunya ibadahnya juga sangat luar biasa itu.

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) mengajak dan menyeru kepada segenap muslimin dan muslimat untuk meramaikan masjid dengan ibadah dan amal sholeh dalam 10 malam terakhir di bulan Ramadhan ini tanpa melewatkan 1 malampun, dengan harapan Lailatul Qodr dapat kita raih. Mari persiapkan diri kita masing-masing, fisik maupun mental, fokuskan segala perhatian dan waktu 10 malam terakhir ini, ITIKAF di Masjid itu lebih baik.

Enam Thabiat Luhur Muslimin

Enam tabiat/perilaku yang perlu dimiliki dan dipraktekkan dalam keluarga, sebagai kehidupan sosial terkecil dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu :

kelompok pertama terdiri dari:
(1) rukun, (2) kompak, dan (3) kerjasama yang baik. Ketiga tabiat/perilaku ini diaplikasikan dalam kehidupan keluarga maupun kehidupan dalam masyarakat dan ini merupakan perilaku/tabiat sosial (social behaviour).

kelompok kedua terdiri dari:
(4) jujur, (5) amanah, dan (6) mujhid muzhid. Ketiga tabiat/perilaku ini merupakan perilaku individu (individual behaviour).
Secara rinci enam tabiat luhur baik pengertian maupun sumber hukumnya akan diuraikan dibawah ini:

1. Rukun,

berarti dalam kehidupan keluarga/bermasyarakat diantaranya mempunyai ciri-ciri/sifat sebagai berikut :
– Tidak punya unek-unek jelek, dengki, iri hati kepada sesama.
– Saling mengasihi, saling memaafkan, bantu membantu dan tolong menolong dalam kebaikan, kuat memperkuat dan saling mendoakan yang baik.
– Kalau bertemu diusahakan dengan penampilan wajah ceria.
Perilaku rukun ini sebagaimana sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam :
تَرَى اْلمُؤْمِنِيْنَ فِى تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ اِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى * رواه البخارى
“Engkau (Muhammad) melihat orang-orang iman didalam saling menyayangi, saling menyenangi, dan saling mengasihinya mereka sebagaimana sekujur tubuh, ketika salah satu anggotanya sakit maka seluruh tubuhnya ikut merasakan sakit, yaitu dengan tidak bisa tidur dan demam / panas dingin.”

2. Kompak,

berarti perilaku yang dipraktekkan dalam kehidupan keluarga / bermasyarakat diantaranya dalam kegiatan-kegiatan yang telah disepakati dikerjakan bersama-sama dengan giat, senang, gembira, seia sekata, sehingga digambarkan yang satu terhadap yang lainnya, sebagaimana bangunan satu yang komponennya saling memperkuat.
Kekompakan ini sebagaimana disabdakan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam :
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا * رواه البخارى
Orang iman terhadap orang iman yang lain sebagaimana bangunan yang bagian-bagiannya saling memperkuat.”

3. Kerjasama yang baik,

berarti dalam kehidupan sehari-hari dapat saling peduli, saling mendukung, saling melancarkan, tidak jegal menjegal, tidak jatuh menjatuhkan, tidak rugi merugikan dan tidak fitnah menfitnah.
Kerja sama yang baik ini sebagaimana firman Alloh dalam Al-Qur`an:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلبِرِّ وَالتَّقْوى وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَاْلعُدْوَانِ … الأية * سورة المائدة ٢
Dan tolong menolonglah kalian atas kebaikan dan ketaqwaan dan jangan tolong menolong atas dosa dan permusuhan . . .”

4. Jujur,

berarti dalam kehidupan sehari-hari secara individu selalu berkata yang benar, tidak dusta, tidak menipu, dan berbicara apa adanya.
Tabiat jujur ini sebagaimana Firman Alloh dalam Al-Qur`an :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ أمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ * سورة التوبة ١١٩
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Alloh dan hendaklah kalian berada bersama orang-orang yang jujur.”

5. Amanah,

berarti dalam kehidupan sehari-hari secara individu orang tersebut bisa dipercaya dan menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya, tidak berkhianat (tidak merusak kepercayaan) dan menyampaikan barang yang benar/haq kepada yang berhak menerimanya.
Perilaku ini diperkuat oleh firman Alloh dalam Al-Qur`an :
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلى أَهْلِيهَا … الأية * سورة النساء ٥٨
Sesungguhnya Alloh memerintah kepada kalian untuk mendatangkan/menyampaikan amanat-amanat kepada ahlinya . . .”
Sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam :
أَدِّ اْلأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ * رواه الترمذى
“Sampaikanlah amanat pada orang yang mempercayaimu, dan janganlah mengkhianati orang yang mengkhianatimu (jangan membalas dengan kejahatan).”

6. Mujhid-muzhid.

Seseorang dapat dikatakan hidupnya mujhid, apabila dalam kehidupan sehari-hari kerjanya giat, semangat dan berhasil serta kurup sesuai dengan kerja tersebut. Selanjutnya seseorang dapat dikatakan muzhid, apabila dalam kehidupan sehari-harinya mengatur penghasilannya dengan pola hidup hemat, gemi, tidak boros dan dapat mengukur antara kemauan dengan kemampuannya.
Sebagaimana sabda Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wasallam :
قَدْ أَفْلَحَ الْمُزْهِدُ الْمُجْهِدُ * رواه أحمد
“Sungguh beruntung orang yang tirakat (hidup