LDII di intip Wartawan di Banjarmasin Timur

Khatib Jumat Tanpa Mimbar dan Podium

Kamis (21/2) petang, tepat waktu mahrib tiba, seorang kaum Masjid Al-Hidayah di kompleks Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Jl. Manggis Banjarmasin Timur mengumandangkan adzan dengan menggunakan pengeras suara.

Masjid yang berlantai dua itu cukup sederhana, tempat imam memimpin sholat pun hanya sebuah sajadah. Satu per satu jamaah di kompleks LDII itu berdatangan. Kemudian shalat Maghrib pun digelar dipimpin seorang imam dengan mengenakan baju gamis. ”Lebih rapat lagi shafnya, mas” saran seorang jamaah kepada kru Serambi UmmaH. Begitu shaf sudah rapat dan rapi, baru sang imam memulai shalat. Shalat maghribnya, tidak ada yang beda, sama tiga rakaat, namun saat bangkit dari ruku, jamaahnya lebih kerasmengucapkan ”rabbana lakal hamdu.”

Uniknya lagi, pakaian jamaah LDII, baik yang shalat menggunakan celana panjang, baju gamis, ataupun sarung, posisinya berada di atas mata kaki. Saat shalat berjalan, imam hanya menggunakan pengeras suara dalam masjid. Usai shalat, imam dan para jamaahnya wiritan asing-masing, persis sepertiyang dipraktikan di masjid-masjid kebanyakan, meskipun posisi wanitanya berada paling belakang. Bagusnya, usai shalat Maghrib para remaja putra dan putri berumur belasan tahun mengikuti pengajian hadis-hadis. Setiap jamaah di tangannya terdapat semacam kitab. Mereka mendengarkan sambil menulis apa yang diterangkan ustadnya.

Kitab yang dipegangi para jamaahnya bertulisan Arab dan para stri yang menulis apa yang diterangkan ustadnya juga menggunakan huruf Arab. ”Kami sedang memaknai,” ungkap seorang jamaah saat ditanya maksudnya menuis Arab dalam kitab itu. Ini mirib sekali metode yang dipraktekkan di pesantren.
Sebagian pelajaran yang mereka bahas saat itu seputar sejarah Nabi Yusuf, dan di akhir pelajaran mereka mengurai tentang Surat Al-Munafiqun baian ayat-ayat terakhir.
Selama sholat Maghrib sampai Isya dimasjid LDII itu tidak ditemukann seperti anggapan miring selama ini bahwa shalat di LDII itu bagi yang bukan jamaahnya, maka bekas orang sholat itu akan mereka bersihkan. Bahkan jamaah remaja, dewasa, dan tua, sanga ramah. Perbincangan pun mengalir lancar, padahal mereka sebelumnya tidak tahu sedang berhadapan dengan sorang wartawan.

Hujan Duit

Ada lagi yang unik di Masjid Al-Hidayah LDII ini, saat mengikuti shalat Jumat (22/2) para jamaah yang ingin menginfakkan uangnya ke masjid, cukup melemparkan ke depan, sehingga leparan itu terlihat bersambung. Rata-rata mereka melempar uang kertas, meski ada sebagian anak-anak yang juga melempar uang logam. Menariknya lagi, jamaah Jumat yang berada di lantai atas, juga turut melemparkan uangnya ke lantai bawah, sehingga terkesan seperti hujan duit. Suasana ini semakin tampak saat usai shalat Jumatan dan berdoa.

Rangkaian shalat Jumat di masjid LDII ini memakai adzan dua kali, mirip yang dipraktikkan kaum Nahdiyin. Namun yang terunik lagi, masjid ini tidak menggunakan mimbar seperti di masjid kaum Nahdliyin dan tidak pula menggunakan podium seperti di masjid Muhammadiyah. Mereka cukup menggunakan yang sangat sederhana dan lebih praktis, yaitu sebuah kursi. Dan kursi itu pun fungsinya hanya sebagai tempat khatib tatkala duduk antara dua khutbah Jumat. Sedangkan posisi khatib berkhutbah berdiri di samping kursi, tepatnya berada di atas tempat imam memimpin shalat. Pada shaf shalat Jumat paling belakang diisi pula jamaah wanita yang shalatnya tanpa embel-embel dinding penghalang. Menariknya lagi di masjid ini khutbahnya menggunakan bahasa Arab. Pelaksanaan shalat Jumat di masjid terseut dipenuhi jamaah, namun jamaah yang hadir mayoritas datang dariluar kampung tersebut.

Menurut Drs Hermansyah, dirinya sempat beberapa kali shalat Jumat, Dzuhur dan Ashar di masjid Al-Hidayah LDII. ”Praktik ibadahnya sama seperti yang dipraktikkan warga Muhamadiyah dan NU, tidak ada hal yang aneh,” jelas Camat Banjarmasin Timur ini.

Hermansyah yang kantornya sangat berdekatan dengan komplek LDII Jl Manggis ini menuturkan, LDII yang dulunya bernama Islam Jamaah dan terkesan sangat tertutup, kini sudah tidak lagi.

Namun, kata camat teladan Banjarmasin ini, sampai sekarang masih ada sebagian beranggapan bahwa LDII itu tetap seperti dulu. ”Tak heran, jika ada warga sekitar baliung dan memilih shalat di masjid depan kantor saya ketimbang di masjid LDII,” beber Hermansyah. Karena itu, ia menyarankan agar LDII terus berinteraksi dan menyosialisasikan paradigma barunya.

Ada Pengajian Cabe Rawit

HM Darban mengakui khatib Jumat di Masjid Al-Hidayah LDII menggunakan bahasa Arab. ”Kebetulan jamaah yang hadir shalat Jumat pada umumnya warga LDII yang memang mengerti bahasa Arab, mulai dari remajanya hingga generasi tuanya,” jelas Ketua LDII Kalsel ini.

Mereka bisa tulis, baca, dan berbahasa Arab, karena sejak usia TK sudah dididik belajar Alquran hingga ke tingkat yang lebih tinggi disesuaikan dengan usianya.

”Karena itu, di tempat kami ini ada pengajian kalangan cabe rawit untuk usia TK dan SD,” jelas HM Darban kepada Serambi UmmaH. Jadi, ada pengajian tingkat cabe rawit, muda/mudi, dewasa/mahasiswa hingga orang tua, dan guru-gurunya sudah kami sediakan, tambah Darban..

[TABLOID JUM’AT – SERAMBI UMMAH (Jum’at, 29 Februari – 6 Maret 2008) No. 429 – Rubrik IHWAL, Halaman 3]

di sunting dari http://blogldii.wordpress.com

Iklan

Kuota Haji

Liputan6.com, Jakarta: Pemerintah terus melobi Kerajaan Arab Saudi untuk menambah jatah kuota haji Indonesia. “Bapak Menteri Agama telah mengajukan tambahan 3.000, hanya sampai sekarang belum ada jawaban. Kita tunggu sampai akhir Ramadan,” kata Abdul Ghafur Jawahir, Direktur BPIH dan Sistem Informasi Haji, di Jakarta, Sabtu (6/9) siang.

Langkah Menteri Agama Maftuh Basyuni ini persis seperti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menyurati langsung Raja Arab Saudi, tahun lalu. Ketika itu, Presiden Yudhoyono meminta tambahan 3.000 jemaah dan disetujui.

Kisruh kuota ini tak lepas dari besarnya minat umat Islam Indonesia menunaikan ibadah haji. Tahun ini saja, lebih dari 700 ribu calon hajil telah mendaftar. Padahal, jatah kuota Indonesia hanya 207 ribu jemaah. Jatah itu lebih sedikit dari tahun lalu, yaitu 210 ribu jemaah.

Masalah kuota juga mendapat protes dari ribuan calon haji asal Bekasi. Mereka memprotes surat keputusan Gubernur Jawa Barat yang mengurangi kuota untuk kota tersebut menjadi 2.000. Sementara sisanya dialihkan ke kota lain. Di Pengadilan Tata Usaha Negara Bandung, gugata mereka dimenangkan [baca: PTUN Bandung Menangkan Gugatan Calon Haji Bekasi].

Menurut Abdurrahman Al-Khayyat, Duta Besar Arab Saudi di Jakarta, jatah kuota yang telah ditetapkan Organisasi Konferensi Islam (OKI) sulit diubah. Namun, bisa saja dilakukan asal ada pendekatan lain. “Kuota itu sesuai jatah berdasarkan rasio jumlah penduduk muslim. Bisa saja jatah itu ditambah jika ada kesepakatan antara Menteri Agama RI dan Menteri Haji Saudi,” kata Al-Khayaat.

Kuota haji ditentukan kesepakatan negara-negara OKI dengan kuota satu jemaah untuk setiap 1.000 penduduk muslim di suatu negara. Dengan perkiraan 90 persen dari 220 juta penduduk Indonesia adalah muslim, maka jumlah 207 ribu jemaah sudah melampaui rasio yang ditetapkan OKI.(BOG/Tim Liputan 6 SCTV) Liputan6.com

PTUN Bandung Menangkan Gugatan Calon Haji Bekasi

Liputan6.com, Bandung: Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung memenangkan gugatan calon haji asal Bekasi terhadap surat keputusan Gubernur Jawa Barat tentang kuota haji kabupaten dan kota. Keputusan majelis hakim PTUN Bandung disambut haru para calon haji asal Bekasi.

Dalam pertimbangannya, majelis hakim menilai Surat Keputusan Gubernur Jabar yang saat itu dijabat Dani Setiawan tidak sah. Sebab yang berhak membatasi kuota haji adalah menteri agama. SK Gubernur tertanggal Mei 2008 itu mengurangi kuota haji untuk Kota Bekasi menjadi 2000 dan sisanya dialihkan ke kota lain. Padahal calon yang sudah melunasi biaya haji mencapai 8000 orang sesuai kuota sebelumnya.

Para calon haji asal Bekasi sebelumnya beberapa kali turun ke jalan memprotes SK Gubernur. Namun aksi mereka mendapatkan tandingan. Ribuan calon haji dari berbagai kota mendukung SK Gubernur. Mereka meminta SK penetapan kuota haji kabupaten-kota tak dicabut.(JUM/Patria dan Taufik Hidayat)

Liputan6.com

LDII Islah Dalam Miscommunication di Jember

Minggu, 23 Sept 2007
Perusakan Musala Diakhiri Islah

JEMBER – Konflik perusakan mushala yang belum selesai dibangun akhirnya diselesaikan dengan cara islah. Ketua Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Jember Drs H Budiono MSi menegaskan, persoalan itu tak perlu diperpanjang. Lebih-lebih saat ini adalah bulan Ramadhan.

Dia menegaskan, jujur, pihaknya sangat menyesalkan perusakan musala oleh orang tak dikenal tersebut. Sebab, akibat kejadian itu, suasana sempat kurang kondusif dan umat muslim khususnya sempat kurang khusyuk menjalankan Ramadan. “Karenanya, kami mohon maaf. Mari kita ambil hikmah dengan meningkatkan toleransi,” katanya, kemarin.

Namun demikian, dia menjamin LDII tidak akan melakukan aksi balasan dan justru akan terus berupaya meredam masalah. Persoalan perobohan musala sendiri dinilai bukan karena kebencian terhadap LDII, tapi murni karena masalah kesalahpahaman. Akar masalah, sebenarnya adalah kurangnya komunikasi rencana pembangunan musala antara warga LDII setempat dengan warga sekitar. Termasuk juga komunikasi dengan muspika, instansi terkait, bahkan sampai ketua maupun pengurus RT. “Jadi, murni kesalahpahaman bukan pada perbedaan kepahaman atau aliran keagamaan,” kata Budiono.

Seperti diketahui, Rabu (19/9) sekitar pukul 20.30, mushala milik warga LDII dirusak oleh orang tak dikenal. Musala itu berada di tanah kapling Handayani RT 04/RW IX Desa Tanggul Wetan, Kecamatan Tanggul.

Musala tersebut berukuran 8 x 8 meter dan belum rampung dibangun. Selain temboknya belum selesai dikuliti, musala itu masih beratap terpal. Namun demikian, di bagian dalam musala, sebagian sudah dikeramik.

Kata Budiono, pembangunan musala itu murni atas inisiatif pribadi warga LDII. Jadi, bukan merupakan kebijakan organisatoris. “Hanya ya itu tadi, warga kami kurang mensosialisasikan atau mengkomunikasikan ke warga sekitar,” katanya.

Budiono meyakinkan bahwa ajaran LDII tidak sesat dan menyesatkan. Jika ada pandangan seperti itu dalam masyarakat, itu lebih dikarenakan kurangnya sosialisasi jamaah LDII dengan masyarakat sekitar.

Sebagai upaya mengantisipasi kesalahpahaman ini, LDII sudah membangun komunikasi dengan Majelis Ulama Indonesia. Bahkan, sudah dilakukan sejak dua tahun lalu. “MUI akan bicara di masjid kami, dan dalam waktu dekat kami akan berjamaah salat di masjid Pak Sahilun (Ketua MUI Sahilun Nasir),” kata Budiono.

Kata Budi, tempat ibadah warga LDII bersifat terbuka. Pihaknya memberi kesempatan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menggunakan sebagaimana mestinya dengan menjunjung toleransi dan harmonitas sosial.

Ke depan, pihaknya akan terus menjalin komunikasidan hubungan yang selama ini sudah terjalin baik dengan MUI dan ormas-ormas islam lain di Jember. LDII akan aktif dalam berbagai aktivitas, terutama kegiatan untuk peningkatan religiusitas.

LDII Jalin Ukuwah

Alhamdulilah, 5 hari sudah berlalu di bulan yang penuh barokah ini. Lalu sudah sejauh mana kita isi detik demi detik masa-masa dimana Alloh melipatkan pahala dan melimpahkan banyak sekali Rakhmat dan Kefadholan di dalamnya, Insya Alloh kita semua bisa, kuatkan tekad esok akan lebih meningkat lagi.

Ukuwah Islamiyah se-Dunia

Ukuwah Islamiyah se-Dunia

Tak hanya ibadah secara personal, LDII bertekad jalin ukuwah antar sesama umat islam untuk memakmurkan mesjid dan miningkatkan tali silaturrohim.

Ingatlah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ٨:٤٦

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu sekalian saling berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. QS. Al Anfal: 46

Oleh karena itu, marilah kita upayakan dalam suasana saling tolong menolong sesama muslim dalam rangka kebaikan dan ketaqwaan. Jauhkanlah berbagai sebab yang mengarah kepada perselisihan dan perpecahan di kalangan muslim lainnya. Karena perpecahan dan permusuhan diantara sesama muslim itu akan dapat melemahkan dakwah, ukhuwah Islamiyah, serta sendi-sendi kehidupan berkebangsaan lainnya.

(terinspirasi dari planetldii.blogspot.com)

LDII BUKAN ALIRAN SESAT

[RADAR CIREBON (Jum’at, 29 Februari 2008)]

CIREBON – Sebagaimana hasil Rakernas LDII 2007,organisasi kemasyarakatan berbasis keagamaan ini tidak mengkafirkan atau menajiskan seseorang, dan masjid yang dikelolanya terbuka untuk umum. Dalam LDII juga tidak ada keamiran dan mau diimami orang lain, dengan mengikuti ijtima’ ulama untuk melaksanakan taswiyah almanhaj dan tansiq alharoqoh. “Kami punya paradigma baru,” kata Ketua Wanhat DPD LDII Kota Cirebon, Drs H Mansyur MS, kemarin (26/2).

Maksudnya, diterapkannya metode berfikir dalam mentolerir adanya perbedaan, sepanjang masih dalam koridor faham keagamaan ahlussunnah waljamaah  dalam pengertian yang luas. Serta penyamaan metode gerakan dalam mensinkronisasi, mengoordinasi dan mensinergikan gerakan umat Islam di bawah paying MUI.

Bagaimana pandangan LDII adanya criteria alian sesat berdasarkan versi MUI 2007? Mansyur menilainya sangat bagus. Sebab, dengan adanya sepuluh criteria aliran sesat itu, kini orang tidak boleh lagi sembarangan menyebut sesat terhadap organisasi Islam terasuk LDII. Karena, kata dia, LDII itu tidak sesat. Justu sebaliknya, LDII mengajak kepada umat untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran Islam berdasarkan Al-quran dan Hadis, sebagaimana ormas Islam pada umumnya. Karena, pihaknya yakin dengan ilmu dan amalan berdasarkan Alquran dan Hadis, serta diniati karena Allah SWT, maka termasuk sebagai ahli syurga.

Aliran sesat itu ada sepuluh criteria, yakni mengingkari salahsatu rukun iman dan rukun Islam, mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’I, meyakini turunnya wahyu setelah Al-quran, mengingkari kebenaran Al-quran dan melakukan penafsiran Al-quran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir. Selanjutnya, mengingkari kedudukan hadis nabi sebagai sumber ajaran Islam, menghina, melecehkan atau merendahkan para nabi dan rasul, mengingkari Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir, mengubah, menambah atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syar’I dan mengkafirkan sesame muslim tanpa dalil syar’i. (san)

LDII New Era

LDII New Era

LDII dalam Kajian Ulama

KH Alie Yafie

Saya ingin menyampaikan bahwa memang menarik mengkaji perkembangan Islam di Indonesia. Bagian dari perkembangan tersebut, kita harus lihat LDII di situ. Jadi kita tidak boleh (menuding) sembarang, tanpa data dan fakta dari hasil penelitian. Karena saya tidak punya data yang cukup, saya tidak ingin memberikan vonis kepada LDII. Jadi saya anjurkan untuk melakukan penelitian yang mendalam, secara kekerabatan, tidak seperti polisi atau jaksa yang sedang menyelidik.

Intinya secara ukuwah Islamiyah. Jadi tahu bagaimana sejarahnya, apa faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan lain sebagainya. Jadi, sebagai ilmuwan, kita tidak boleh ngomong seperti orang awam. Itu harapan saya.

Dalam budaya tarekat, sebenarnya ada tradisi silsilah, yang dalam istilah yang melekat di LDII adalah manqul. Penggunaannya dalam konteks fiqih sebenarnya tidak ada masalah. <50%>

Web blog ini mengandung setengah (50%) dari Catatan Para Ulama. Untuk memperoleh Catatan Para Ulama versi lengkap dalam bentuk buku, silahkan kunjungi situs www.madaniinstitute.org

Prof.Dr.KH. Said Agil Siradj

Airan atau madzhab atau firaq islamiah itu, sepanjang masa akan tetap ada. Kajian mengenai al-Firaq al-Islamiah (firqah-firqah Islam) dan al-Firaq al-Kharijah `anil Islam (firqah-firqah yang keluar dari Islam) adalah salah satu mata kuliah wajib di Timur Tengah, baik itu di Ummul Qura Makkah maupun di Al-Azhar Kairo. Yang termasuk firqah Islam adalah Mu`tazilah, Khawarij, Jabariah, Qadariah, Murji’ah, Jahamiah; Syi`ah, Syi`ah Itsna `Asyariah, Imamiah, dan Zaidiah. Sedangkan firqah yang keluar dari Islam yaitu Syiah Ismailiah, Bahaiyah, Qadianiyah, dan lain-lain. Kelompok kedua ini dianggap keluar dari Islam karena mereka mengingkari prinsip-prinsip ma`ulima minaddin bidhdharuri (prinsip yang sangat fundamental dalam Islam).

Orang atau kelompok yang mengingkari ma’ulima minaddin bidhdharurah54 bisa dikategorikan sesat. Sedangkan kelompok atau orang yang mengingkari ma`ulima minaddin bitta`allum (hasil pemikiran/telaah/ijtihad) tidaklah sesat. Sampai-sampai, golongan Khawarij pun masih dianggap sebagai bagian dari kelompok Islam (firaq islamiah), padahal mereka telah membunuh Sayidina Ali Karramallahu Wajhah.

Di dalam Islam terdapat beragam aliran dan golongan. Sebagian besar golongan tersebut tidak bisa dianggap sesat, karena ada dua perbedaan, yaitu perbedaan yang bersifat wacana dan perbedaan yang bersifat aksi/amal. Lha, LDII ini perbedaannya amal. Mereka tidak kita anggap sesat, tetapi mutanaththi`, tanaththu`, orang yang eksklusif, kelompok eksklusif. Namun demikian, LDII masih dalam bagian firqah islamiah, karena meyakini apa yang disebut ma’ulima minaddin bidhdharurah, meski dalam beberapa hal LDII (menurut beberapa kalangan yang mengamati organisasi ini) berbeda dengan mayoritas ulama dalam menafsirkan ayat tertentu. Perbedaan penafsiran itu sendiri dalam banyak kesempatan dibantah oleh pengurus LDII. Seandainya dugaan para pengamat itu benar, perbedaan itu tidak menyebabkan LDII menyandang label ”sesat.” Itu tidak sesat, hanya salah atau sempit. Itu tanaththu`, mutanatti`, hatta Khawarij kita tidak mengatakan sesat. Padahal dia yang membunuh Sayidina Ali, kita tidak mengatakan sesat, tetapi mutasyaddid, mutatharrif.

Mutasyaddid (keras) dan mutatharrif (ekstrem atau keterlaluan) itu berbeda dengan menyimpang. Yang menyimpang adalah yang mengingkari ma`ulima minaddin bidhdharurah, yang bitta`allum tidak. Allah punya sifat berapa dan apa, itu bitta`allum. Di kalangan NU dan di kalangan Pesantren, ada juga kalangan yang eksklusif. Sampai-sampai, kaum perempuan sama sekali tidak boleh bertemu dengan laki-laki. Ada sebagian orang membaca takbiratul ihram berkali-kali, karena was-was, seakan-akan harus hati-hati. Justru hal ini adalah bagian dari sifat keterlaluan dan berlebihan.

LDII tidak bisa disamakan dengan Ahmadiah. Ahmadiah itu sesat karena mengingkari ma`ulima minaddin bidhdharurah, mengakui adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Saya menanggapi perubahan paradigma LDII secara positif. Paradigma Baru LDII harus disikapi dengan positif. Mereka (LDII) mengakui kesalahan, dalam tanda petik: kesalahan ajarannya atau kesalahan doktrinnya, bukan kesalahan aqidah. Aqidah nggak salah, dari awal nggak salah. Aqidah dia rukun iman yang enam itu. Rukun Islamnya juga sama. Ya seperti pesantren dulu, dimana Bahasa Inggris itu haram. Sekarang, justru membolehkan. NU sendiri, pada Muktamar tahun 30-an itu mengharamkan pakai dasi atau pakai celana. (Sekarang, tidak).

Orang yang menganggap orang lain sesat itu, juga sesat. Man kaffara ahlal kitab (al-Qur’an) fahuwa kafir. Orang yang menganggap sesat orang lain, yang tidak menolak hal-hal prinsip maka ia sesat juga, kecuali yang prinsip tadi. Kita (NU), menghindari bahasa “sesat.” Pleno NU di Cisalak Bogor, menyatakan aliran Ahmadiah adalah aliran yang ditolak oleh mayoritas umat Islam, (tapi) tidak mengatakan sesat, karena sesat itu adalah caci-maki. Kata syatm itu kita hindari.

Dalam menyikapi masalah-masalah yang berkaitan dengan perbedaan dalam memahami agama, masyarakat itu tergantung dengan ulama (kyai). Kalau masyarakat NU ya apa kata kyai-nya. Kalau kyainya tambah maju, berkembang, terbuka, maka masyarakatnya akan mengikuti. Oleh karena itu, para ustadz dan dai tidak boleh berhenti belajar, agar wawasan menjadi luas dan siap menerima perbedaan. Asal mereka mau belajar, mereka akan menjadi toleran. Orang kalau mandeg, merasa dirinya pinter, maka ia akan berpandangan sempit. Kalau mau belajar terus, ia akan menjadi toleran, tasamuh. Bukan berarti menghalalkan yang haram, menerima yang sesat, tidak. Tetapi menyikapinya dengan kepala dingin, dengan argumentatif.

Sepanjang interaksinya dengan LDII, saya belum pernah menemui kasus-kasus yang dilontarkan beberapa kalangan, semisal mencuci masjid bekas tempat shalat jama’ah non-LDII. Saya pernah bertanya langsung tentang hal itu, “Apakah betul?,” mereka menjawab, “Ya, kalau masjidnya kotor, Kyai, bukan karena ada yang shalat selain dari LDII. Ya karena waktunya dicuci, karena sudah kotor.”

Mengenai kondisi masjid LDII, memang kebersihan masjid LDII luar biasa. Saya masuk di pusat LDII di Kediri, (mesjid dan pondoknya) bersih puntung rokok Memang di LDII merokok itu haram. Artinya nggak boleh merokok. Sampah nggak ada, bersih sekali. Nah, ketika saya melihat perpustakaannya, memang yang banyak itu kitab hadits. hadits segala macam itu ada. Lantas saya bertanya,“Mana kitab akhlaknya, harus ada. Karena ad-din itu al-khuluqul hasan, ad-din al-mu`amalah al-hasanah, Innama bu`itstsu-lah, harus ada akhlak-lah.” Mereka menjawab,“Apa nggak cukup kitab-kitab hadits, Kyai?” Saya jawab, “Kurang. Ya, hadist kan masih doktrin umum. Harus ada ilmu yang namanya ilmu akhlak.” “Apa?” tanya mereka lagi. Saya jawab, “Ya ilmu tasawuf itu.” Dia mulai saya berikan masukanlah. <50%>

Web blog ini mengandung setengah (50%) dari Catatan Para Ulama. Untuk memperoleh Catatan Para Ulama versi lengkap dalam bentuk buku, silahkan kunjungi situs www.madaniinstitute.org

KH Azhari Abas

Memang, dulunya LDII dianggap eksklusif. Tapi yang terakhir kita lihat, apalagi hasil Rakernas baru-baru ini, tidak. Makanya hasil Rakernas harus disosialisasikan. Kalau saya lihat, penyimpangan sudah tidak ada lagi. Sekarang, secara garis besar sudah tidak ada lagi. Cuma sekarang kita harapkan agar LDII harus mampu sosialisasikan ke masyarakat.

Kalau saya lihat untuk selama ini, karena saya dekat dengan Ketua LDII Batam. Cuma emang saya harapkan, tokoh-tokoh LDII harus mampu sosialisasikan hasil Rakernas. Memang saya akui bahwa ada sebagian masyarakat yang masih berbekas eksklusifnya. Mereka siap ikuti imam siapa saja. LDII yang dulu eksklusif, sekarang malah yang paling aktif. Di mesjid LDII juga, bukan hanya saya yang sudah kenal baik dengan tokoh LDII, tapi juga banyak yang lainnya. Sudah tidak ada masalah lagi. Orang LDII juga sudah shalat di mana-mana. Sudah bermakmum ke mana-mana, sudah berimam ke mana-mana. <50%>

Web blog ini mengandung setengah (50%) dari Catatan Para Ulama. Untuk memperoleh Catatan Para Ulama versi lengkap dalam bentuk buku, silahkan kunjungi situs www.madaniinstitute.org

LDII dalam Peta Sosial Politik Indonesia

Oleh : Asep Rohimat, SIP.,SH.

Tidak banyak masyarakat yang mengenal LDII. Berbeda dengan NU atau Muhamadiyah  yang sudah akrab ditelinga khalayak ramai. NU adalah organisasi massa Islam terbesar di Indonesia dengan karakteristik tradisional dengan peran para ulamanya yang dominan dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya. Berbeda dengan Muhamadiyah yang dikenal lebih reformis, modern dan intelektual dalam menjalankan harokah islamiyah-nya.

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) adalah sebuah organisasi massa keagamaan yang bergerak dalam bidang dakwah Islam dan sosial kemasyarakatan dengan payung Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara-nya dengan dilandasi nilai-nilai Islam berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah.

Berbeda dengan NU atau Muhamadiyah yang mempunyai basis massa dengan karakteristik tertentu (NU = masyarakat kultural, petani, masyarakat pedesaan atau Muhamadiyah = priyayi/pegawai negeri, kaum terpelajar, pedagang, masyarakat perkotaan, kelas menengah terdidik), LDII mempunyai basis massa yang majemuk atau dengan kata lain dapat menampung semua lapisan masyarakat dari berbagai latar belakang mulai dari buruh, petani, pelajar, mahasiswa, guru, pegawai negeri, anggota TNI/POLRI, pejabat, pedagang, pengusaha, dst)

Kalau Muhamadiyah dikenal sebagai kelompok Islam yang modern dan NU mewakili kelompok Islam yang memegang kuat tradisi. Lantas apa sebutan Islam apa yang cocok untuk menggambarkan LDII ? Sulit untuk mendeskripsikan karakteristik LDII dalam sebuah istilah yang representatif. Bila disebut Islam yang modern, LDII memenuhi kriteria, misalnya saja LDII dipimpin oleh seorang professor riset (Prof.Dr.Ir.H. Abdullah Syam, MSc.), mempunyai visi dan misi yang jelas serta struktur organisasi yang modern, sering mengadakan kegiatan-kegiatan yang ilmiah (CAI, dll). Sebaliknya, LDII juga adalah Islam yang tradisional, misalnya LDII dalam dakwah dan sistem pengajiannya menerapkan pola tradisional dimana guru mengajarkan ilmu agama kepada muridnya atau murid membaca dan guru memperhatikan dan mengesahkan. Dalam beramal ma’ruf, anggota LDII lebih banyak memakai metode konvensional, misalnya dari mulut ke mulut, door to door, person to person atau lebih dikenal dengan istilah dakwah fardiyah. Satu lagi ciri tradisional LDII adalah memegang teguh Al Qur’an dan As Sunnah secara tekstual dalam rangka tabligh nya sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW ± 1400 tahun yang lampau.

Nahdatul Ulama dilahirkan sebagai kesepakatan para ulama yang memegang tradisi pada waktu itu untuk membendung dan melindungi tradisi-tradisi dalam masyarakat Islam Indonesia dari pengaruh gerakan pembaharuan Islam (Wahabiah) yang diwakili oleh terbentuknya Muhamadiyah dan Persis di Indonesia sebelum merdeka. Dalam perkembangannya antara NU dan Muhamadiyah serta ormas-ormas Islam lainnya mempunyai peranan penting dalam blantika kehidupan sosial politik di tanah air. Pada waktu Orde Lama aspirasi masyarakat NU terwakili oleh partai NU dan warga Muhamadiyah terwakili oleh Masyumi. Ketika zaman Orde Baru, NU dan Muhamadiyah menyalurkan aspirasinya pada PPP. Kini, NU dibawah komando Gusdur mempunyai PKB sedangkan Muhamadiyah melahirkan PAN yang dimotori Amin Rais. Bagaimana dengan warga LDII dalam menyalurkan aspirasi politiknya ?

Para petinggi LDII dalam berbagai kesempatan selalu mengatakan bahwa LDII adalah sebuah organisasi massa Islam yang netral, artinya tidak terikat dengan partai manapun. Warga LDII bebas menyalurkan aspirasinya ke partai manapun sesuai dengan hati nuraninya. Meskipun demikian, sebagai sebuah organisasi massa besar dan mempunyai massa yang riil, LDII sering didekati oleh partai-partai atau tokoh-tokoh politik. Bahkan warga LDII banyak yang dipercaya untuk menjadi pengurus partai politik sampai kepada calon kepala daerah atau anggota legislatif.

Dialam reformasi yang demokratis ini, banyak bermunculan kembali faham-faham atau ajaran-ajaran mulai dari sosialis kerakyatan sampai kepada faham Islam radikal. Seperti dimasa lalu, saat ini dan kedepan, akan terjadi lagi pertarungan idiologi antara nasionalis, islam dan sosialis. Tampaknya, sosialisme tidak mempunyai tempat dihati masyarakat sehingga sulit berkembang saat ini, disamping memang tetap dikontrol perkembangannya oleh negara akibat penghianatannya ditahun 1965. Berkembangnya PKS (yang meniru sistem perjuangan Ikhwanul Muslimin di Mesir) dan HTI (yang memilih jalur perjuangan ekstra parlemen) adalah tanda menguatnya kelompok Islam yang menginginkan diterapkannya syariat Islam dalam kehidupan bernegara. Golkar dan PDIP yang notabene partai mainstream melihat PKS dan HTI sebagai rival politik, sehingga lahirlah konsolidasi Medan beberapa waktu yang lalu antara PDIP dan Golkar.

Contoh awal dari pertarungan ideologi antara nasionalis versus islam adalah Pilkada Depok dan DKI Jakarta baru-baru ini. Dimanakah posisi NU, Muhamadiyah dan LDII sebagai stakeholder utama umat Islam di Indonesia ? Meskipun berbeda satu sama lain, ketiga ormas terbesar tadi mempunyai kesamaan pandangan mengenai Pancasila, UUD 1945 dan NKRI. Artinya, pembicaraan mengenai Pancasila, UUD 1945 dan NKRI sudah final, sehingga gerakan Islam fundamental tidak akan tidak akan menjadi mainstream di Indonesia sebagaimana pendapatnya Prof. Azzumardi Azra.

Tidak ada satu ayat pun dari Al Qur’an maupun Al Hadist yang secara tegas menyuruh umat Islam mendirikan negara Islam, yang ada adalah perintah menjalankan kehidupan ini berdasarkan Qur’an dan Sunnah secara kaffah. Perintah Allah dan Rasulullah SAW adalah menjaga kemurnian agama dalam “satu barisan” dan tidak berkelompok-kelompok. Negara hanyalah alat untuk mencapai kesejahtraan (welfare), sebagaimana telah diungkapkan oleh Plato ribuan tahun yang lalu. NKRI sudah pas untuk Indonesia yang beranekaragam dan janganlah kita memaksakan kehendak yang bisa merusak “nation state”  dan ukhuwah kita. Back to Al Qur’an  and As Sunnah adalah jawaban untuk menyelesaikan semua persoalan bangsa ini dan dengan tidak bermaksud berlebihan, menurut Penulis, LDII adalah kendaraan yang ideal untuk mengantarkan kita kemasa depan yang bahagia dunia dan akhirat. Wallahu a’lam bi showab.